![]() |
| www.rumahzakat.org |
Niat merupakan rukun pertama dari
semua amal shaleh (perbuatan baik) yang kita lakukan. Tanpa niat segala amal
ibadah kita sia-sia. Shalat, Puasa, Zakat, Haji kita batal jika tidak ada niat.
Tidak ada pahalanya. ”Sesungguhnya amal-amal perbuatan
tergantung niatnya, dan bagi tiap orang apa yang diniatinya. Barangsiapa
hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya.
Barangsiapa hijrahnya untuk meraih kesenangan dunia atau menikahi wanita, maka
hijrahnya adalah kepada apa yang ia hijrahi” (HR Bukhari)
”Niat seorang mukmin lebih baik
dari amalnya” (HR Al-Baihaqi dan Ar-Rabii’)
”Manusia dibangkitkan kembali
kelak sesuai dengan niat-niat mereka” (HR Muslim)
Sebagaimana hadits di atas, niat
bermacam-macam. Ada yang niat mengerjakan sesuatu untuk Allah, ada pula untuk
yang lain seperti kesenangan dunia seperti pamer, harta, jabatan atau wanita.
a. Niat yang Baik untuk Mendapat Ridha Allah SWT
Niat yang bagus adalah niat untuk
mendapat ridho Allah SWT. Atau untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. ”Di antara orang-orang Arab Badwi
ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang
dinafkahkannya di jalan Allah untuk mendekatkannya kepada Allah dan untuk
memperoleh doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu untuk mendekatkan
diri kepada Allah. Kelak Allah akan memasukan mereka kedalam rahmat (surga)Nya;
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [At Taubah:99]
Orang yang berbuat kebaikan hanya
untuk mendapat ridho Allah akan mendapat pahala berlipat ganda: ”Perumpamaan (nafkah yang
dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah
serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir
seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.
Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [Al Baqarah:261]
”Dan perumpamaan orang-orang yang
membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa
mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh
hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan
lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha
Melihat apa yang kamu perbuat” [Al Baqarah:265]
Niat kita harus benar-benar tulus
hanya untuk Allah. Bukan dengan lainnya:
Allah berfirman “Aku adalah yang
paling tidak butuh kepada syarikat, maka barangsiapa yang beramal suatu amalan
untuku lantas ia mensyerikatkan amalannya tersebut (juga) kepada selainku maka
Aku berlepas diri darinya dan ia untuk yang dia syarikatkan” (HR. Ibnu Majah
2/1405 no. 4202,adapun lafal Imam Muslim (4/2289 no 2985) adalah, “aku
tinggalkan dia dan kesyirikannya”).
Jadi tidak boleh kita melakukan
sesuatu demi selain Allah misalnya demi kekasih, partai, golongan, dan
sebagainya. Itu sudah termasuk syirik.
b. Tidak Boleh Niat karena Riya atau Pamer
Sering orang melakukan suatu
kebaikan hanya karena riya. Ingin dilihat orang sehingga orang mengatakan bahwa
dia adalah dermawan, pahlawan, dan sebagainya. Meski dia tidak mengharapkan
imbalan apa-apa kecuali dikenal orang sebagai orang yang baik, dermawan atau
philanthropist, Allah mengatakan orang seperti itu sebagai teman setan dan
memberikan neraka sebagai balasannya: ”Dan (juga) orang-orang yang
menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang
tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil
syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang
seburuk-buruknya” [An Nisaa’:38
]
]
Imam Ghazali dalam kitab Ihya’
’Uluumuddiin menggambarkan orang yang riya sebagai berikut. Jika ada orang yang
melihatnya, baru dia shalat atau berbuat kebaikan lainnya. Tapi jika tidak ada
orang yang melihat, dia tidak mengerjakannya.
Orang seperti itu seperti orang yang
shalat hanya jika ada budak yang melihatnya di samping rajanya. Tapi begitu
budak itu tidak ada, yang tinggal hanya raja, dia bermalas-malasan. Begitulah
sikap orang yang riya terhadap Allah Raja Diraja, Tuhan Semesta alam. Orang
riya macam ini hanya membuat gemas orang saja….
Orang yang menyebut kebaikan yang
diperbuatnya, apalagi sampai menyinggung hati orang yang menerima kebaikannya,
pahalanya hilang tidak berbekas:
”Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu menghilangkan pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan
menyakiti perasaan si penerima, seperti orang yang menafkahkan hartanya karena
riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka
perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian
batu itu ditimpa hujan lebat, lalu jadilah dia bersih tidak bertanah. Mereka
tidak mendapat apa-apa dari yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi
petunjuk kepada orang-orang yang kafir” [Al Baqarah:264]
c. Jangat Niatkan Amal untuk Mendapatkan Dunia atau Harta
Banyak orang yang bekerja atau
mencari uang hanya karena ingin kaya atau dunia. Ini sangat berbahaya karena
mereka hanya akan dapat kekayaan atau dunia tanpa mendapatkan pahala akhirat
sedikit pun: ”Barangsiapa yang menghendaki
kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan
pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan
dirugikan.
Itulah orang-orang yang tidak
memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang
telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”
[Huud:15-16]
Seharusnya niat tetap untuk
mencari ridho Allah sehingga mereka tetap mendapatkan pahala di akhirat. Meski
pekerjaan yang dilakukan sama, tapi karena niat berbeda hasilnya pun berbeda.
Orang yang berusaha dengan niat
mencari ridho Allah, niscaya dia akan dapat kebahagiaan di dunia dan di
akhirat.
Meski ada sebagian motivator yang
baik, namun saya banyak juga menyaksikan motivator yang memotivasi pembacanya
hanya untuk menjadi kaya/mendapat dunia. Ini berbahaya karena bisa merusak niat
dan amal/usaha pembacanya.
Saran saya pelajari teknik
mencari uang dengan niat mencari ridho Allah. Niatkan harta yang anda dapat
selain untuk menafkahi keluarga anda sesuai ajaran Islam juga untuk di jalan
Allah. Sebab siapa yang berusaha hanya ingin kekayaan/dunia tidak mendapat
akhirat sedikit pun: ”Barang siapa yang menghendaki
keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa
yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari
keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat” [Asy
Syuura:20]
”…Barang siapa menghendaki pahala
dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia, dan barang siapa
menghendaki pahala akhirat, Kami berikan kepadanya pahala akhirat. Kami akan
memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” [Ali ’Imran:145]
Oleh karena itu hendaknya sebelum
mengerjakan sesuatu kita niatkan pekerjaan kita ikhlas untuk Allah SWT: ”Kecuali orang-orang yang taubat
dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus
ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama
orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang
beriman pahala yang besar” [An Nisaa’:146]
Meski apa yang diperbuat sama,
namun Allah hanya akan menerima perbuatan orang yang bertakwa:
”Ceritakanlah kepada mereka kisah
kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya
mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua
(Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku
pasti membunuhmu!.” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban)
dari orang-orang yang bertakwa.” [Al Maa-idah:27]
sumber: media-islam.or.id

Semoga Sobat hari ini lebih baik dari kemarin, jika ada yang ingin ditanyakan terkait program RZ Cilegon, silahkan isikan komentar dibawah ini
EmoticonEmoticon