![]() |
| www.rumahzakat.org |
Jiwa yang gersang, hati yang
hilang kepekaan, dan mata yang kering akan air mata berarti ada Hak Allah yang
belum kita tunaikan. Mungkin ada cinta kita pada Allah yang belum
tersambungkan, ruhiyah kita belum dekat dengan Tuhannya. Mata kita tidak pernah
menangis untuk betul-betul menghambakan kepada Allah. “Allah telah menurunkan perkataan
yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa ( mutu ayat-ayatnya) lagi
berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya,
kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah
petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan
barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpin
pun.” (QS. Az Zumar: 2)
Meneteskan air mata adalah kodrat
manusia. Ada banyak sebab yang menjadikannya menangis; gembira, sedih, takut,
haru, rindu dan banyak lagi sebab yang lain. Namun Ibnu Qayyim rahimahullah
menyebutkan ada lebih dari sepuluh air mata, namun hanya ada satu air mata yang
terbaik; air mata yang menetes karena takut kepada Allah. Dia merupakan
indikasi kematangan iman. Dan Rasulullah saw bersabda, “Tidak akan masuk neraka
laki-laki yang menangis karena takut kepada Allah, hingga air susu kembali ke
kambingnya.”(HR. Tirmidzi)
Tapi terkadang kita lupa kapan
terakhir kita menangis bersimpuh dalam sujud kita, dalam munajat kita kepada
Allah. Hingga hati ini menjadi gersang, ruhiyah ini terasa kurang air. Apalagi
dosa dan kesalahan itu yang akan selalu membakar diri ini, dengan apa api itu
akan kita padamkan jika diri ini tidak pernah dekat dengan Allah? Tidak pernah
ada air mata penghambaan diri ini kepada-Nya?
Keangkuhan, kesombongan dan
jauhnya kita dari Allah akan membuat diri semakin gersang dan hati semakin
kering kerontang. Padahal dosa dan kesalahan itu meninggalkan luka yang
semestinya mampu membuat kita menangis, seperti para salafushalih dalam setiap
kekhilafan yang mereka lakukan.
Dikisahkan suatu hari Sufyan Ats
Tsauri terlihat menangis dan cemas. Melihat hal itu, salah seorang sahabatnya
berkata, “Tetaplah engkau berharap kepada Allah. Ampunan Allah lebih besar dari
dosa-dosamu.” Lalu Sufyan Ats Tsauri menjawab, “Tidak bolehkan aku menangisi
dosa-dosaku? Jika saja aku telah mengetahui bahwa aku akan mati dalam keadaan
tetap mengesakan Allah, maka aku tidak akan peduli dengan dosa-dosaku yang
sebesar gunung-gunung itu.”
Menangislah kita di sini, di
dunia ini karena dosa-dosa. Karena hanya di sini tangisan dan tetesan airmata
itu bermanfaat. Dan kita berlindung kepada Allah dari nasib orang yang banyak
tertawa di dunia ini dengan dosanya, sementara di akhirat menangis karena
memohon ampun atas dosanya.
Pernah suatu hari di jumpai
Rasulullah sedang menangis. Melihat beliau para sahabat pun, bertanya, “Apa
yang membuatmu menangis wahai Rasulullah? Beliau menjawab, “Aku rindu kepada
saudara-saudaraku!”
“Bukankah kami ini saudaramu,
wahai rasulullah,” sergah para sahabat beliau.”Bukan. Kalian adalah sahabatku.
Sedangkan saudara-saudaraku adalah kaumku yang akan datang setelah
(kepergian)ku, mereka beriman kepadaku dan tidak pernah melihatku,” tegas
beliau (Sirah Ibnu Hisyam).
Rasulullah telah menitikkan air
mata karena rindunya beliau kepada umatnya yang tak pernah dilihatnya namun
beriman kepadanya. Namun pernahkah kita membalas kerinduan itu dengan deraian
air mata? Adakah deraian air mata karena ingin berjumpa dengan beliau?
Bahkan Mikail pun tidak pernah tersenyum sejak api neraka di ciptakan oleh Allah. Dari sahabat Anas bin Malik ra meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw bertanya kepada malaikat jibril, ”kenapa aku tidak pernah melihat Malaikat Mikail tertawa sama sekali?” Jibril menjawab, “Mikail sudah tidak pernah tertawa sejak api neraka diciptakan.”
Bahkan Mikail pun tidak pernah tersenyum sejak api neraka di ciptakan oleh Allah. Dari sahabat Anas bin Malik ra meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw bertanya kepada malaikat jibril, ”kenapa aku tidak pernah melihat Malaikat Mikail tertawa sama sekali?” Jibril menjawab, “Mikail sudah tidak pernah tertawa sejak api neraka diciptakan.”
Neraka memang tidak hanya api,
tapi juga ada dingin. Namun dingin yang membinasakan. Simaklah sabda Rasulullah
saw berikut ini, “Neraka mengadu kepada Tuhannya, lalu ia berkata:” Ya Rabbi,
bagian tubuhku memakan antara satu dan yang lainnya, maka berikanlah aku nafas.
Lalu Allah memberikannya dua nafas; satu nafas di musim dingin dan satu nafas
di musim panas. Maka kalian akan menjumpai panas yang sangat luar biasa dari
teriknya, dan dingin yang sangat luar biasa dari udaranya (yang amat
dingin).”HR. Bukhori
Mungkin kita sudah lama tidak
menangis mengingat panasnya api neraka, dahsyatnya panas dan dinginnya di
dalamnya. Semoga Allah menjernihkan kembali hati dan jiwa kita. Hingga mampu
menitikkan kembali air mata penuh rasa takut dan penuh penghambaan diri ini
kepada Tuhannya.
Terkadang air mata ini tertahan karena penghalang yang lahir dari kesalahan dan dosa kita, kelalaian kita hingga membentuk noktah hitam dalam hati kita yang membuat hati kita tertutup dan beku karena hilangnya cahaya Allah.
Terkadang air mata ini tertahan karena penghalang yang lahir dari kesalahan dan dosa kita, kelalaian kita hingga membentuk noktah hitam dalam hati kita yang membuat hati kita tertutup dan beku karena hilangnya cahaya Allah.
Salah satu penyebab hilangnya
cahaya Allah ini adalah karena jarang bersentuhan dengan Al Qur’an. Rasulullah
bersabda,” sesungguhnya hati itu berkarat sebagaimana hati berkarat.” Sahabat
bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah pembersihnya?” Beliau menjawab, “Mengingat mati
dan banyak membaca Al Qur’an.”
Mari jadikan Al-Quran sebagai
sahabat dengan senantiasa membaca dan memahaminya. Semoga dengan begitu hati
kita tidak mati sehingga tidak bisa merasakan lagi kenikmatan rasa rindu dan
takut kepada Allah.
www.rumahzakat.org
www.rumahzakat.org

Semoga Sobat hari ini lebih baik dari kemarin, jika ada yang ingin ditanyakan terkait program RZ Cilegon, silahkan isikan komentar dibawah ini
EmoticonEmoticon