![]() |
| www.rumahzakat.org |
Oleh: Abu Khalid Resa Gunarsa
Allah penguasa alam raya. Dengan
kuasa-Nya, Allah dapat berbuat apa saja tanpa ada seorang pun yang mampu
menghalanginya. Kita dan semua yang kita saksikan dalam kehidupan ini pun
milik-Nya. Dengan hikmah-Nya yang maha tinggi, Allah berkenan memberi apa saja
kepada kita, Allah pun mampu mengambilnya dari kita. Allah berkehendak
mengaruniakan kebaikan yang kita inginkan, Allah pun berhak menurunkan musibah
yang tidak kita harapkan.
Musibah, bencana dan malapetaka
ada dalam kuasa-Nya pula. Kehidupan manusia di dunia ini hampir tak pernah sepi
dari musibah yang datang silih berganti. Dari yang kecil sampai yang besar.
Dari yang ringan sampai yang berat. Dari yang sedikit hingga yang banyak. Ada
musibah yang bersifat umum dan ada yang bersifat individu. Ada musibah yang
tidak melibatkan manusia dan ada yang musibah yang melibatkan manusia zalim.
Allah Mahabijaksana. Musibah
adalah sunnah-Nya. Segala yang diperbuat-Nya selalu mengandung hikmah yang
agung. Lalu, untuk tujuan apakah Dia mendatangkan musibah kepada manusia?
Pertama: Sebagai hukuman bagi
orang-orang yang mansekutukan-Nya dan kufur kepada-Nya.
Allah akan menurunkan musibah
kepada orang-orang yang ingkar, kufur dan menyekutukan-Nya, sebagai hukuman dan
azab atas perbuatan mereka yang sangat buruk. Kekufuran dan syirik adalah dosa
yang paling besar. Orang-orang yang memperbuatnya memang pantas mendapat
hukuman dari Allah, apabila mereka telah mendapatkan peringatan dari para
utusan-Nya.
Dalam sejarah manusia, musibah
dan azab pernah turun kepada kaum-kaum terdahulu. Kaum Nabi Nuh Allah
tenggelamkan dalam musibah banjir bandang. Kaum Nabi Hud, Shaleh dan Syu’ab
Allah tiupkan angin yang membinasakan kepada mereka. Fir’aun dan bala
tentaranya juga Allah tenggelamkan ke dalam samudera. Kaum Nabi Luth Allah
balikkan tanah mereka lalu Allah hujani mereka dengan baru-baru kerikil yang
panas. Kisah-kisah mereka Allah ceritakan dalam Al Qur`an agar menjadi pelajaran
bagi manusia yang datang setelah mereka. Allah berfirman, “dan siksaan itu
Tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim.” (QS. Huud: 83)
Kedua: Sebagai hukuman atas dosa-dosa dibawah syirik dan kekufuran, untuk mensucikan hamba-hamba-Nya.
Diantara sebab datangnya musibah
yang menimpa manusia di dunia baik pada diri, keluarga atau harta mereka adalah
karena perbuatan dosa dan maksiat yang mereka kerjakan, juga sebagai hukuman
dari Allah atas mereka. Allah berfirman, “Dan apa saja musibah yang
menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah
memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuuraa: 30)
“Apa saja nikmat yang kamu
peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari
dirimu sendiri.” (QS. An Nisaa`: 79) Ibnu Katsir berkata, “Maksud ‘dari dirimu’
adalah dengan sebab dosamu.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Ingatlah, sungguh Allah akan menghalangi rizki seorang hamba
disebabkan dosa yang dikerjakannya.” (HR Ibnu Majah, Ahmad, Hakim: Shahih
Isnad)
Jika Allah menghendaki kebaikan
atas hamba-Nya, Allah akan menyegerakan akibat dari kesalahan yang diperbuatnya
di dunia dan tidak menangguhkannya di akhirat. Hingga ia bertemu dengan Allah
di akhirat nanti dalam keadaan bersih dari kesalahan.
Dengan demikian, jika musibah
datang menyapa kita, segeralah melakukan evaluasi diri dan bertobat kepada-Nya.
Ketiga: Untuk meninggikan derajat hamba-hamba-Nya
Allah menguji manusia dengan musibah dan nikmat, agar menjadi jelas kesyukuran orang yang beriman dan kesabarannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Tidak Allah menetapkan suatu ketetapan bagi seorang mukmin
melainkan menjadi kebaikan baginya. Hal itu tidak dimiliki kecuali oleh orang
yang beriman. Jika ia mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur dan itu menjadi
kebaikan baginya. Begitu pun jika ia ditimpa dengan musibah, maka ia bersabar
dan itu pun menjadi kebaikan baginya.” (HR Muslim)
Dari sisi ini musibah menjadi
cara Allah untuk meninggikan derajat seorang hamba, meluhurkan keutamaannya dan
menambah pahalanya.
Keempat: Untuk membedakan orang yang jujur dan orang yang dusta dalam pengakuan imannya
Dunia adalah tempat ujian. Ujian
datang diantaranya dalam bentuk musibah yang tidak diinginkan kehadirannya. Orang-orang
yang mengaku beriman akan Allah uji, sejauh mana kebenaran dan kejujuran
pengakuannya sebagai orang yang beriman. Allah berfiman, “Alif laam miim. Apakah manusia
itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”,
sedang mereka tidak diuji lagi? dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang
yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar
dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al Ankabut: 1- 3)
Setiap orang yang mengatakan,
“Aku beriman” akan diuji oleh Allah. Jika ia bersabar dan teguh, maka ia
berarti jujur dalam imannya. Namun jika ia menyimpang dan berpaling dari
agamanya tatkala mendapat ujian, maka ia berarti dusta dalam pengakuannya.
Kelima: Untuk membuat hamba-hamba-Nya berserah diri, mengadu dan berdoa kepada-Nya
Seorang mukmin, jika ia mendapat
musibah, ia akan segera mengadu, tunduk, berserah diri dan berdoa kepada Allah.
Ia juga akan memperbanyak ibadah, bersedekah dan shalat karena ia menyadari
bahwa Allah-lah satu-satunya yang berkuasa mengangkat musibah itu dan menolong
orang-orang yang kesusahan jika mereka memohon kepadanya.
Ibnul Qayyim rahimahullah
berkata, “Diantara hikmah ujian (yang Allah timpakan kepada orang beriman) adalah
membuat mereka kian tunduk dan merendahkan diri kepada Allah, merasa butuh dan
memohon pertolongan kepada-Nya.”
Dengan demikian, musibah bagi
orang yang beriman juga bertujuan menjaga keimanan mereka dan kelurusan jalan
hidup yang ditempuhnya. Andai mereka terus-menerus diberikan kesenangan,
kemenangan dan kemudahan hidup, bisa jadi mereka menjadi lalai dan lupa kepada
Allah dan agamanya.
Keenam: Mengingatkan hamba-Nya kepada akhirat
Sebagaimana yang telah dikatakan
diatas, musibah adalah sunnatullah di dunia ini. Dunia bukan tempat kenikmatan.
Mencari kesenangan dan kenikmatan selama-lamanya dan terus-menerus tidak
mungkin akan didapatkan di dunia ini. Di dunia ini bercampur antara nikmat dan
bencana, antara kemudahan dan kesusahan, antara kesenangan dan kesedihan. Jika
begitu hakikat dari kehidupan dunia, maka musibah yang datang kepada seorang
hamba sejatinya dapat mengingatkannya ke negeri akhirat, tempat cita-cita untuk
meraih segala kenikmatan dapat ditambatkan.
“Sesungguhnya Kami telah
menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al Balad: 4)
Ibnu Katsir berkata, “Maksudnya,
susah payah dalam menghadapi musibah-musibah di dunia, dan kesulitan-kesulitan
di akhirat.”
Wallahu a’lam, wa shallallahu wa
sallam ‘alaa nabiyyinaa Muhammad.
Sumber: sabilulilmi.wordpress.com

Semoga Sobat hari ini lebih baik dari kemarin, jika ada yang ingin ditanyakan terkait program RZ Cilegon, silahkan isikan komentar dibawah ini
EmoticonEmoticon