![]() |
| gambar dari google.co.id |
Jumlah raka’at shalat
Idul Fithri dan Idul Adha adalah dua raka’at. Adapun tata caranya adalah
sebagai berikut.
Pertama: Memulai
dengan takbiratul ihrom, sebagaimana shalat-shalat lainnya.
Kedua: Kemudian
bertakbir (takbir zawa-id/tambahan) sebanyak tujuh kali takbir -selain
takbiratul ihrom- sebelum memulai membaca Al Fatihah. Boleh mengangkat tangan
ketika takbir-takbir tersebut sebagaimana yang dicontohkan oleh Ibnu ‘Umar.
Ibnul Qayyim mengatakan, “Ibnu ‘Umar yang dikenal sangat meneladani Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengangkat tangannya dalam setiap takbir.”
Ketiga: Di antara
takbir-takbir (takbir zawa-id) yang ada tadi tidak ada bacaan dzikir tertentu.
Namun ada sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud, ia mengatakan, “Di antara tiap
takbir, hendaklah menyanjung dan memuji Allah.”Syaikhul Islam mengatakan bahwa
sebagian salaf di antara tiap takbir membaca bacaan,
سُبْحَانَ اللَّهِ
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ
إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ
. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي
“Subhanallah wal
hamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar. Allahummaghfirlii war
hamnii (Maha suci Allah, segala pujian bagi-Nya, tidak ada sesembahan yang
benar untuk disembah selain Allah. Ya Allah, ampunilah aku dan rahmatilah
aku).” Namun ingat sekali lagi, bacaannya tidak dibatasi dengan bacaan ini
saja. Boleh juga membaca bacaan lainnya asalkan di dalamnya berisi pujian pada
Allah Ta’ala.
Keempat: Kemudian
membaca Al Fatihah, dilanjutkan dengan membaca surat lainnya. Surat yang dibaca
oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah surat Qaaf pada raka’at pertama
dan surat Al Qomar pada raka’at kedua. Ada riwayat bahwa ‘Umar bin Al Khattab
pernah menanyakan pada Waqid Al Laitsiy mengenai surat apa yang dibaca oleh
Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat ‘Idul Adha dan ‘Idul
Fithri. Ia pun menjawab,
كَانَ يَقْرَأُ
فِيهِمَا بِ (ق وَالْقُرْآنِ
الْمَجِيدِ) وَ (اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ
وَانْشَقَّ الْقَمَرُ)
“Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam biasa membaca “Qaaf, wal qur’anil majiid” (surat Qaaf) dan
“Iqtarobatis saa’atu wan syaqqol qomar” (surat Al Qomar).”
Boleh juga membaca
surat Al A’laa pada raka’at pertama dan surat Al Ghosiyah pada raka’at kedua.
Dan jika hari ‘ied jatuh pada hari Jum’at, dianjurkan pula membaca surat Al
A’laa pada raka’at pertama dan surat Al Ghosiyah pada raka’at kedua, pada
shalat ‘ied maupun shalat Jum’at. Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
كَانَ رَسُولُ
اللَّهِ -صلى الله عليه
وسلم- يَقْرَأُ فِى الْعِيدَيْنِ وَفِى
الْجُمُعَةِ بِ (سَبِّحِ اسْمَ
رَبِّكَ الأَعْلَى) وَ (هَلْ أَتَاكَ
حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ) قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ
الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِى يَوْمٍ وَاحِدٍ
يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِى
الصَّلاَتَيْنِ.
“Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam shalat ‘ied maupun shalat Jum’at
“Sabbihisma robbikal a’la” (surat Al A’laa)dan “Hal ataka haditsul ghosiyah”
(surat Al Ghosiyah).” An Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari
‘ied bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat tersebut di
masing-masing shalat.
Kelima: Setelah
membaca surat, kemudian melakukan gerakan shalat seperti biasa (ruku, i’tidal,
sujud, dst).
Keenam: Bertakbir
ketika bangkit untuk mengerjakan raka’at kedua.
Ketujuh: Kemudian
bertakbir (takbir zawa-id/tambahan) sebanyak lima kali takbir -selain takbir
bangkit dari sujud- sebelum memulai membaca Al Fatihah.
Kedelapan: Kemudian
membaca surat Al Fatihah dan surat lainnya sebagaimana yang telah disebutkan di
atas.
Kesembilan: Mengerjakan
gerakan lainnya hingga salam.
Khutbah Setelah Shalat
‘Ied
Dari Ibnu ‘Umar, ia
mengatakan,
كَانَ رَسُولُ
اللَّهِ – صلى الله عليه
وسلم – وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ
– رضى الله عنهما – يُصَلُّونَ
الْعِيدَيْنِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ
“Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr, begitu pula ‘Umar biasa melaksanakan shalat
‘ied sebelum khutbah.”
Setelah melaksanakan
shalat ‘ied, imam berdiri untuk melaksanakan khutbah ‘ied dengan sekali khutbah
(bukan dua kali seperti khutbah Jum’at). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
melaksanakan khutbah di atas tanah dan tanpa memakai mimbar. Beliau pun memulai
khutbah dengan “hamdalah” (ucapan alhamdulillah) sebagaimana khutbah-khutbah
beliau yang lainnya.
Ibnul Qayyim
mengatakan, “Dan tidak diketahui dalam satu hadits pun yang menyebutkan bahwa
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammembuka khutbah ‘iednya dengan bacaan takbir.
… Namun beliau memang sering mengucapkan takbir di tengah-tengah khutbah. Akan
tetapi, hal ini tidak menunjukkan bahwa beliau selalu memulai khutbah ‘iednya
dengan bacaan takbir.”
Jama’ah boleh memilih
mengikuti khutbah ‘ied ataukah tidak. Dari ‘Abdullah bin As Sa-ib, ia berkata
bahwa ia pernah menghadiri shalat ‘ied bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam, tatkala beliau selesai menunaikan shalat, beliau bersabda,
إِنَّا نَخْطُبُ
فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ
لِلْخُطْبَةِ فَلْيَجْلِسْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ
يَذْهَبَ فَلْيَذْهَبْ
“Aku saat ini akan
berkhutbah. Siapa yang mau tetap duduk untuk mendengarkan khutbah, silakan ia
duduk. Siapa yang ingin pergi, silakan ia pergi.”
Artikel Terkait: Tuntunan Ketika Hendak KeluarMelaksanakan Shalat ‘Ied
Ucapan Selamat Hari
Raya
Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah menjelaskan, “Adapun tentang ucapan selamat (tah-niah) ketika hari
‘ied seperti sebagian orang mengatakan pada yang lainnya ketika berjumpa
setelah shalat ‘ied, “Taqobbalallahu minna wa minkum wa ahaalallahu ‘alaika”
dan semacamnya, maka seperti ini telah diriwayatkan oleh beberapa sahabat Nabi.
Mereka biasa mengucapkan semacam itu dan para imam juga memberikan keringanan
dalam melakukan hal ini sebagaimana Imam Ahmad dan lainnya.
Akan tetapi, Imam
Ahmad mengatakan, “Aku tidak mau mendahului mengucapkan selamat hari raya pada
seorang pun. Namun kalau ada yang mengucapkan selamat padaku, aku akan
membalasnya”. Imam Ahmad melakukan semacam ini karena menjawab ucapan selamat
adalah wajib, sedangkan memulai mengucapkannya bukanlah sesuatu yang
dianjurkan. Dan sebenarnya bukan hanya beliau yang tidak suka melakukan semacam
ini. Intinya, barangsiapa yang ingin mengucapkan selamat, maka ia
memiliki qudwah (contoh). Dan barangsiapa yang meninggalkannya, ia pun memiliki
qudwah(contoh).”
Demikian beberapa
penjelasan ringkas mengenai panduan shalat Idul Fithri dan Idul Adha. Semoga
bermanfaat.
Segala puji bagi Allah
yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Penulis: Muhammad
Abduh Tuasikal

Semoga Sobat hari ini lebih baik dari kemarin, jika ada yang ingin ditanyakan terkait program RZ Cilegon, silahkan isikan komentar dibawah ini
EmoticonEmoticon