![]() |
| Ilustrasi Pemenang |
Bulan Ramadhan, bulan yang mulia,
bulan yang selalu dinanti ummat islam, bulan ampunan tempat pahala berganda,
bulan ampunan yang didalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari 1000
bulan.
Bulan ramadhan adalah bulan multi
sarana, Bulan Ramadhan adalah sarana untuk menggapai kemenangan, bulan Ramadhan
adalah sarana untuk meningkatkan kualitas perjuangan, dan bulan ramadhan adalah
sarana untuk mencapai kemerdekaan.
Masih banyak kiranya peran bulan
Ramadhan sebagai bulan multi sarana, sarana untuk mempererat tali ukhuwah,
sarana tarbiyah dan sebagai sarana yang lain-lainnya. Yang harus kita
perhatikan adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan bulan suci Ramadhan ini,
jangan sampai bulan Ramadhan berlalu, tapi kita tidak mendapat sesuatu apapun.
Merugilah kita tentunya.
Bagaimana bulan suci Ramadhan
mengantarkan umat islam pada kemenangan dan kejayaan, apa rahasia yang ada
sehingga sejarah mencatat karya-karya gemilang terjadi di bulan suci Ramadhan?
Perang Badar adalah salah satu
sejarah kemenangan di bulan suci Ramadhan. Tepat tanggal 17 Ramadhan meletuslah
perang Badar yang dahsyat itu. Pasukan kafir Quraisy menghujani pasukan
Muslimin dengan anak panah. Pasukan Muslim balas menyerang dengan gigih seraya
meneriakkan kata, “Ahad… Ahad….Ahad…!” padahal Jumlah pasukan Muslimin hanya
berkisar 300 orang dengan membawa 70 ekor unta. Sementara kekuatan Quraisy
Makkah berkisar 1.000 orang, tiga kali lebih banyak dari kaum Muslimin. Perang
yang amat dahsyat ini akhirnya dimenangkan oleh kaum Muslim, pembela agama
Allah. Perang yang terjadi di bulan Ramadhan ini menjadi peristiwa sangat
penting dalam sejarah Islam.
Pada tanggal 21 Ramadhan tahun 8
Hijriah. Terjadi Peristiwa Pembebasan Makkah yang menjadi bukti sejarah
kemerdekaan di bulan Ramadhan yang pada saat itu pasukan kaum Muslim dipimpin
langsung oleh Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam-. Berhala- berhala yang
sekian lama menodai kesucian Kab’ah dibersihkan. Musuh yang tertawan tidak
dijadikan budak sebagaimana kebiasaan kaum musyrik ketika memenangkan
pertempuran, melainkan dibebaskan dan dimaafkan. Pada saat itu Bilal naik ke
atas Ka’bah dan mengumandangkan adzan. Kalimat- kalimat agung yang dulu harus
dibisikkan secara sembunyi-sembunyi itu kini membelah angkasa. Allahu Akbar..
Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar….!
Bukan hanya dijaman Nabi dan
shahabatnya, Peristiwa kemenangan jihad besar sepeninggal Rasulullah
-sholallahu 'alaihi wasallam- juga banyak terjadi di bulan suci Ramadhan. Misalnya,
pada Ramadhan 92 H, ketika Panglima Thariq bin Ziyad bersama 7.000 pasukan
menyeberangi selat Gibraltar untuk membebaskan kota Andalusia di Spanyol. Di
bukit Jabal Thariq, sang panglima berseru! “Kita datang ke sini tidak untuk
kembali. Kita hanya punya dua pilihan, menaklukan negeri dan menetap di sini
serta mengembangkan Islam, atau kita semua binasa.” Dalam rangka melawan
pasukan Spanyol yang berkekuatan 100.000. Di bulan suci Ramadhan itu kaum
Muslimin atas pertolongan Allah -ta'ala-, lagi-lagi memperoleh kemenangan.
Pada Ramadhan tahun 584 hijriah
juga terjadi perang Salib di Eropa. Pasukan Islam yang dipimpin oleh Shalahudin
Al-Ayubi berhasil memporak-porandakan pasukan Salib Eropa yang dipimpin Raja
Richard III dari Inggris yang terkenal bengis. Tapi, berkat kegagahan
Shalahudin Al-Ayubi, sang Raja yang berjuluk The Lion Heart itu akhirnya
takluk. Dan kaum Muslim berjaya di Eropa.
Sebagai warga indonesia, kita
harus tahu bahwa Ramadhan juga menjadi kemenangan besar bagi bangsa kita
tercinta. Di bulan suci ini, tepatnya tanggal 17 Ramadhan 63 tahun lalu,
bersamaan dengan 17 Agustus 1945, bangsa kita memproklamirkan kemerdekaan.
Sangat tepat jika dalam pembukaan UUD 1945 para pendiri bangsa ini menyatakan
bahwa kemerdekaan adalah, “Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa…”
Sejarah telah mencatat, pada bulan suci Ramadhan banyak kesuksesan dan kemenangan besar diraih umat Islam.
Ini membuktikan bahwa bulan
Ramadhan bukan bulan bermalas-malasan dan kelesuan. Rahasia kesuksesan tersebut
dikarenakan niat yang ikhlash, komitmen yang kuat dan kesungguhan yang didasari
dengan keyakinan sehingga banyak ditorehkan kesuksesan. Begitu pula dalam
hadits diungkap kesibukan Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- dan
masyarakatnya dalam mengisi Ramadhan. bagaimana beliau mengikat kain sarungnya
di sepuluh malam yang terakhir sebagai pertanda kesungguhan dalam ibadah dan
mengurangi tidur. Maka semestinya contoh-contoh seperti inilah yang kita tiru
dalam hari-hari Ramadhan kita yang sedang kita jalani. Semoga Allah -ta'ala-
memudahkan kita menjalani Ibadah di bulan Ramadhan dengan baik dan diliputi
keberkhan. Amien
sumber: omdoet.blogspot.co.id

Semoga Sobat hari ini lebih baik dari kemarin, jika ada yang ingin ditanyakan terkait program RZ Cilegon, silahkan isikan komentar dibawah ini
EmoticonEmoticon