Dalam kehidupan ini, terkadang
seorang hamba didera berbagai derita. Tak jarang hatinya dilanda beragam
perasaan yang mengusik hati, menyiksa jiwa dan membuat hidupnya menjadi keruh
dan sempit. Ada tiga jenis perasaan yang mengganggu jiwa seorang manusia;
pertama huzn (kesedihan terhadap apa yang terjadi di masa lalu), kedua hamm
(keresahan lantaran kekhawatiran akan masa depan) dan ketiga ghamm (perasaan
gundah saat menghadapi kenyataan yang sulit yang tengah dihadapi sekarang).
![]() |
| www.rumahzakat.org |
Tiga perasaan ini tak bisa lenyap
dari jiwa seseorang kecuali melalui ketulusan penuh untuk kembali kepada Allah,
kesempurnaan perasaan hina di hadapan-Nya, kerendahan hati kepada-Nya,
ketundukan dan kepasrahan terhadap perintah-Nya, percaya akan ketentuan-Nya,
mengenal-Nya dan mengenal nama-nama dan sifat-sifat-Nya, percaya kepada
kitab-Nya, selalu membaca dan merenungi serta mengamalkan segala kandungannya.
Dengan itu semua -bukan dengan yang lain – segala kekacauan hati itu akan
sirna, dada menjadi lapang, dan kebahagiaan pun akan datang.
Dalam Musnad Ahmad dan Shahih
Ibni Hibban serta lainnya, ‘Abdullah bun Mas’ud meriwayatkan bahwa Nabi
bersabda, “Tidaklah seorang hamba mengucapkan doa berikut (ini) tatkala ia
didera keresahan atau kesedihan melainkan Allah pasti akan menghilangkan
keresahannya dan akan menggantikan kesedihannya dengan kegembiraan. Para
Sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sudah seharusnya kami mempelajari doa
tersebut. Rasulullah menjawab, “Benar. Sudah seharusnya orang yang mendengarnya
mau mempelajarinya”.[1]
Doa Nabi
Ya Allah, sungguh aku ini adalah
hamba-Mu, anak dari hamba-Mu, anak dari hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di
tangan-Mu, ketentuan-Mu berlaku pada diriku, keputusan-Mu adil terhadapku, Aku
memohon kepada-Mu dengan semua nama yang merupakan milik-Mu, nama yang engkau
lekatkan sendiri untuk menamai diri-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada
seseorang di antara hamba-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau
yang Engkau khususkan untuk diri-Mu dalam ilmu gaib di sisi-Mu, agar engkau
menjadikan al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penghilang
kesedihanku dan pelenyap keresahanku.[2]
Sudah selayaknya seorang Muslim
mempelajari dan berupaya kuat untuk mengucapkannya kala ditimpa kesedihan,
keresahan maupun kegalauan. Dan hendaknya ia juga tahu bahwa ungkapan-ungkapan
doa tersebut hanya akan bermanfaat bila ia memahami maknanya, merealisasikan
tujuannya dan mengamalkan kandungannya. Berdoa dengan doa-doa yang bersumber
dari Nabi dan berdzikir dengan wirid yang disyariatkan tanpa ada pemahaman
terhadap maknanya dan tanpa mengejawantahkan kandungannya, tidak mendatangkan
pengaruh baik dan manfaat yang banyak. Doa ini memuat empat pilar yang agung.
Tak ada cara bagi seorang hamba untuk menggapai kebahagiaan dan melenyapkan
keresahan, kegalauan dan kesedihan kecuali dengan merealisasikannya.
Di antara bentuk realisasi pengakuan-pengakuan di atas adalah konsistensi seorang hamba dalam beribadah kepadaNya yang terwujud dalam rasa keterhinaan dan ketundukannya kepada Allah, melaksanakan titah dan menjauhi laranganNya, selalu merasa butuh kepada-Nya, berlindung kepada-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, tawakkal kepada-Nya, meminta perlindungan kepada-Nya, dan agar hati tak bertaut pada selain-Nya, baik dalam hal kecintaan, rasa takut, maupun pengharapan.
Karena itulah, dalam doa tersebut
dinyatakan, “Ubun-ubunku ada ditangan-Mu, ketentuan-Mu berlaku terhadapku,
keputusan-Mu terhadapku adil semata.” Ubun-ubun seorang hamba, yakni kepada
bagian depan, ada di tangan Allah. Allah memperlakukannya sekehendak-Nya; juga
memberi ketentuan terhadapnya sesuai dengan yang Dia kehendaki. Tak ada yang
bisa mencampuri ketentuan-Nya, tidak ada pula yang bisa menolak keputusan-Nya,
tidak ada pula yang bisa menolak keputusan-Nya. Maka dari itu, kehidupan
seorang hamba, kematiannya, kematiannya, kebahagiaannya, kesengsaraannya,
kesehatannya, cobaan yang ia terima, semua itu kembali pada Allah, tak ada sama
sekali yang menjadi wewenang hamba.
Bila seorang hamba percaya bahwa
ubun-ubunnya dan juga ubun-ubun semua hamba lainnya ada di tangan Allah, Dia
akan memperlakukan mereka sesuai dengan kehendak-Nya, maka setelah itu ia
tidaklah takut kepada sesama hamba, tidak menaruh harap pada mereka, tidak
memposisikan mereka sebagai pemilik dirinya, tidak menggantungkan asa dan
harapannya pada mereka. Ketika itu, barulah tauhid, tawakkal dan penghambaannya
kepada Alllah benar-benar terwujud. (Lihat surat Hud 11:56)
Ungkapan dalam doa “ketentuan-Mu
berlaku atas diriku” ini mencakup dua ketentuan; ketentuan dalam agama dan
ketentuan dalam agama dan ketentuan takdir berkenaan dengan semesta. Dua
ketentuan ini akan berlaku pada diri hamba, ia terima ataupun tolak. Hanya saja
ketentuan takdir tidak mungkin untuk dilawan. Sedangkan ketentuan agama
terkadang dilanggar oleh seorang hamba dan ia terancam mendapatkan hukuman
siksa sesuai dengan pelanggaran yang ia lakukan.
Ungkapan “keputusan-Mu terhadapku
adil semata”, ini mencakup semua keputusan Allah terhadap hamba-Nya dari segala
sisi, baik sehat atau sakit, kaya atau miskin, rasa nikmat atau rasa nyeri,
hidup atau mati, mendapat siksa atau mendapat ampun; semua yang Allah putuskan
terhadap hamba itu adalah adil semata.
Pilar ketiga adalah hendaknya
seorang hamba mempercayai nama-nama Allah yang indah (asmaul husna) dan
sifat-sifat-Nya yang agung yang terdapat dalam al-Qur’an dan Sunnah;
bertawassul kepada Allah dengan nama dan sifat-Nya. Ini sebagaimana firman
Allah, Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan
menyebut asmaul husna itu (Qs al-Araf/7:180)
Semakin kuat seorang hamba
mengenal Allah, nama dan sifat-Nya, maka ia akan semakin takut kepada Allah,
semakin besar merasakan pengawasan-Nya terhadap dirinya dan akan semakin jauh
dari kemaksiatan dan hal-hal yang Allah murkai.
Karena itulah, hal terbesar yang
dapat mengusir rasa resah, sedih dan gelisah adalah kala hamba mengenal
Rabbnya, memenuhi hatinya dengan pengetahuan tentang Allah dan bertawassul
kepada-Nya dengan nama dan sifat-Nya. Karena itulah dalam doa tersebut
dinyatakan, aku memohon kepada-Mu dengan segenap nama milik-Mu yang Engkau
sandangkan pada diri-Mu, atau yang Engkau turunkan di kitab-Mu, atau Engkau
ajarkan pada seseorang dari sekalian hamba-Mu, atau yang Engkau simpan sendiri
di ilmu gaib yang ada pada sisi-Mu. Ini adalah wasilah kepada Allah yang paling
Allah cintai.
Pilar keempat adalah memberikan
perhatian pada al-Quranul Karim yang sama sekali tidak mengandung kebatilan
sedikit pun, yang memuat petunjuk, kesembuhan, kecukupan dan keselamatan.
Semakin besar perhatian seorang hamba pada al-Qur’an, baik dengan membaca,
menghafal, mengkaji dan merenungkannya, mengamalkan, dan mengejawantahkannya,
ia akan menggapai kebahagiaan, ketenangan, kelapangan dada, hilangnya resah,
gelisah dan kesedihan sesuai dengan tingkat perhatiannya terhadap Kitabullah.
Inilah empat pilar yang agung
yang dipetik dari doa yang penuh berkah ini. Sudah sepantasnya kita menghayatinya
dan berupaya untuk mewujudkannya, agar kita bisa menggapai janji mulia dan
keutamaan agung ini berupa sirnanya keresahan yang berganti dengan kebahagiaan
dan jalan keluar. Diangkat dari at-Tabyin li Da’awatil Mardha wal Mushabin
karya Syaikh ‘Abdur Razzaq hlm. 40-45.
Penulis : Mustikasari

Semoga Sobat hari ini lebih baik dari kemarin, jika ada yang ingin ditanyakan terkait program RZ Cilegon, silahkan isikan komentar dibawah ini
EmoticonEmoticon