Para penggemar sepakbola tentu
masih ingat peristiwa “Gol Tangan Tuhan” pada piala dunia FIFA 1986. Gol
kontroversial pada menit ke 51 inilah yang membawa Argentina memenangi
kompetisi tersebut.
![]() |
| www.rumahzakat.org |
Lensa kamera merekam jelas adegan sang striker Diego Maradona menyambut umpan melambung dengan tangannya, dan melesakkan ke gawang Inggris.
Namun sang striker berpura-pura
tak melakukan kesalahan. Ia malah berlari kegirangan ke arah penonton demi
meyakinkan gol yang dicetaknya, sembari mengabaikan “persaksian” tangannya.
Wasit bisa ia kelabuhi, tapi
Tuhan tidak. Mata sang wasit boleh saja dianggap “buta” akibat tak mampu
melihat sebenarnya dari gol yang kontroversial itu, namun butanya mata hati
sang striker jauh lebih berbahaya. Ia telah menodai ajang yang katanya amat
menjunjung tinggi sportivitas ini. Dan, celakanya, dunia mengamininya!
Buta Massal
Buta Massal
Rupanya tidak sekali itu saja
dunia mengamini sebuah kebutaan. Mayoritas penghuni dunia ini adalah orang
sesat dan menyesatkan akibat buta, alias gagal melihat dan meyakini jalan yang
benar.
Allah ta’ala menegaskan: Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). (Al-An’am [6]: 116)
Allah ta’ala menegaskan: Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). (Al-An’am [6]: 116)
Ayat itu menjelaskan bahwa jika
Rasulullah menuruti selera penghuni bumi maka dipastikan akan tersesat. Karena
itu, dunia ini tidak boleh dibiarkan untuk diatur sesuai selera mayoritas
manusia. Sebaliknya, pengaturan dunia ini harus disesuaikan dengan aturan Sang
Maha Pencipta yang dipahami para ulama, yang tentu saja jumlahnya minoritas.
Oleh karena itu, upaya menjadikan
hati sehat hingga mampu melihat yang haq mutlak dilakukan. Tanpa pencerahan
mata hati, tujuan utama syariat (maqasid al-syariah al-dharuriyyah) yang
menjamin kemaslahatan manusia dari segala aspek, sebagaimana diungkap al-Syatibi
(al-Muwafaqat: II/17-18), akan gagal terwujud.
Mewujudkan Tujuan
Mewujudkan Tujuan
Ada beberapa hal yang perlu
disadarkan pada diri manusia agar mereka tidak buta terhadap tujuan utama
(maqasid), yaitu:
1. Memahami Konsep Kehambaan Demi
Menjaga Agama (Hifdz al-Din)
Manusia akan merasa tersiksa luar
biasa tanpa makan dan minum. Begitu pula jiwanya, jika tidak dipenuhi kebutuhan
fitrahnya berupa dorongan untuk menghamba kepada Zat yang Maha Kuasa, ia pun
akan sengsara.
Sejarawan menyatakamn, sepanjang
sejarah manusia mungkin saja mereka tak memiliki istana, benteng, atau yang
lainnya, tapi bisa dipastikan mereka mempunyai tempat penyembahan.
Ini bukti bahwa panggilan fitrah
untuk mengakui diri sebagai makhluk tidak dapat diabaikan oleh siapapun.
Otomatis kebutuhan untuk menghamba kepada Pencipta harus dipenuhi. Dan, ini
hanya bisa dipenuhi dari “asupan” yang berasal dari Allah ta’ala saja, tidak
dari yang lain.
Karena menjadi kebutuhan primer
bagi jiwa, maka jiwa siapapun yang dikotori nafsu hingga buta dari konsep kehambaan,
pasti akan mengalami penderitaan luar biasa. Sama halnya seperti jasad yang
makan racun.
Jiwa yang salah “asupan” akan
menderita meskipun terbungkus oleh fisik yang sempurna, wajah yang sering
tertawa, dan raga yang suka disanjung oleh jutaan penggemar.
Allah ta’ala berfirman: Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. (Thaha [20]: 124)
Allah ta’ala berfirman: Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. (Thaha [20]: 124)
2. Memahami Konsep Kemuliaan Demi
Menjaga Jiwa (Hifdz al-Nafs)
Belakangan kita kerap dikejutkan oleh berita yang sulit diterima akal sehat. Seorang kakak, misalnya, begitu mudahnya menghunus pisau kepada adiknya gara-gara berebut kaus kaki. Begitu juga seorang anak begitu gampangnya memukul ayahnya sampai meninggal karena tidak mau memberi uang untuk membeli rokok.
Belakangan kita kerap dikejutkan oleh berita yang sulit diterima akal sehat. Seorang kakak, misalnya, begitu mudahnya menghunus pisau kepada adiknya gara-gara berebut kaus kaki. Begitu juga seorang anak begitu gampangnya memukul ayahnya sampai meninggal karena tidak mau memberi uang untuk membeli rokok.
Bagi jiwa yang sadar konsep
kemuliaan, tak akan mungkin melakukan hal demikian. Sebaliknya, jiwa yang buta
nilai kemuliaan, akan salah memperlakukan manusia yang lain sehingga terjadi
hal-hal demikian.
Jagal semacam Ariel Sharon di bumi Palestina, Slobo dan Milosevic di Bosnia, dan Raja Ferdinand dengan inkuisisinya, adalah contoh orang buta yang memperlakukan manusia lebih hina daripada hewan.
Jagal semacam Ariel Sharon di bumi Palestina, Slobo dan Milosevic di Bosnia, dan Raja Ferdinand dengan inkuisisinya, adalah contoh orang buta yang memperlakukan manusia lebih hina daripada hewan.
Padahal, Allah ta’ala sendiri
telah memberi kedudukan kepada manusia dengan derajat yang sangat mulia. Hal
ini dijaskan oleh Allah ta’ala dengan firman-Nya: Dan sesungguhnya telah Kami
muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri
mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang
sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (Al-Isra’ [17]: 70)
3. Memahami Konsep Kesucian Demi
Menjaga Kehormatan (Hifdz Al-‘Ird Wa Al-Nasl)
Sebagai makhluk mulia, manusia
tentu mempunyai standar tinggi atas tegaknya kehormatan dirinya. Dalam
perspektif syariat, penetapan hukum hijab, pengharaman zina, dan pelarangan
segala bentuk penistaan kehormatan, adalah pemisah yang tegas antara manusia
dan hewan.
Jika peradaban modern melepas
konsep kesucian dan kehormatan demi kebebasan, maka berarti adabnyalah yang
modern, bukan peradabannya. Justru peradabannya terjerembab dalam kasta hewan.
Alangkah ironisnya, setelah ratusan abad merangkak maju dan terus belajar, namun hasilnya hanya peradaban primitif yang setara dengan hewan.
Alangkah ironisnya, setelah ratusan abad merangkak maju dan terus belajar, namun hasilnya hanya peradaban primitif yang setara dengan hewan.
Akibatnya, hubungan “kehormatan”
antara pria dan wanita tak ubahnya seperti hubungan pedagang jajanan.
Na’udzubillah!
4. Memahami Konsep Kemanusiaan
Demi Menjaga Akal (Hifdz ‘Aql)
Ciri khas manusia yang utama adalah akal yang memberi kekuatan berpikir untuk menganalisis, menciptakan ide kreatif, dan menyimpan memori. Hal ini tidak dimiliki makhluk lain.
Ciri khas manusia yang utama adalah akal yang memberi kekuatan berpikir untuk menganalisis, menciptakan ide kreatif, dan menyimpan memori. Hal ini tidak dimiliki makhluk lain.
Begitu pentingnya posisi akal
bagi manusia, maka wajar bila syariat menjadikannya sebagai syarat pembebanan
hukum (manath al-taklif). Alasannya, hanya orang paham hukumlah yang bila
melanggar pantas dihukum.
Pemosisian syariat terhadap akal
ini secara implisit juga bermakna manusia baru dianggap manusia di muka hukum
jika dia berakal. Atas dasar ini, sangat mudah dipahami jika syariat memberikan
hukum yang keras atas pelanggaran terhadapa kesehatan akal, walaupun dilakukan
oleh dirinya sendiri.
5. Memahami Konsep Kepemilikan
dan Kegunaan Demi Menjaga Harta (Hifdz al-Mal)
Pencopet tentu bukan orang buta,
sebab orang buta tidak mungkin bisa mencopet. Matanya melihat, bahkan ekstra
tajam.
Tetapi karena nafsunya, ia buta hati. Ketika ia meraih dompet orang lain, ia akan merasa dompet itu adalah miliknya. Padahal di dalam dompet itu tertera dengan jelas nama pemiliknya. Ada KTP, SIM, dan segenap tanda yang lain.
Tetapi karena nafsunya, ia buta hati. Ketika ia meraih dompet orang lain, ia akan merasa dompet itu adalah miliknya. Padahal di dalam dompet itu tertera dengan jelas nama pemiliknya. Ada KTP, SIM, dan segenap tanda yang lain.
Celakanya, semakin pintar
seseorang, saat ia mengalami buta konsep hak milik secara syar’i, maka semakin
massif harta orang lain yang akan dia dirampas. Fenomena korupsi di negeri ini
adalah bukti tak terelakkan.
Kesimpulannya, hanya dengan
penyadaran akan konsep hak milik harta serta fungsinya sesuai petunjui Allah
ta’ala, harta manusia serta lingkungannya akan terjaga.
Walhasil, manusia sejati yang
bersikap manusiawi demi membangun peradaban tinggi mensyaratkan kesadaran penuh
atas konsep manusia dan perikehidupannya yang sejati menurut bimbingan Allah
ta’ala.
Wallahu a’lam bish-shawab.
sumber: sabilurasyad.wordpress.com

Semoga Sobat hari ini lebih baik dari kemarin, jika ada yang ingin ditanyakan terkait program RZ Cilegon, silahkan isikan komentar dibawah ini
EmoticonEmoticon