![]() |
| www.rumahzakat.org |
Inilah yang harus diakui oleh
setiap orang yang mendapatkan nikmat. Nikmat adalah segala apa yang diinginkan
dan dicari-cari. Nikmat ini harus diakui bahwa semuanya berasal dari Allah
Ta’ala dan jangan berlaku angkuh dengan menyatakan ini berasal dari usahanya
semata atau ia memang pantas mendapatkannya.
Coba kita renungkan firman Allah Ta’ala, “Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.” (QS. Fushshilat: 49). Atau pada ayat lainnya, “Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa.” (QS. Fushshilat: 51)
Coba kita renungkan firman Allah Ta’ala, “Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.” (QS. Fushshilat: 49). Atau pada ayat lainnya, “Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa.” (QS. Fushshilat: 51)
Inilah tabiat manusia, yang
selalu tidak sabar jika ditimpa kebaikan atau kejelekan. Ia akan selalu berdo’a
pada Allah agar diberikan kekayaan, harta, anak keturunan, dan hal dunia
lainnya yang ia cari-cari. Dirinya tidak bisa merasa puas dengan yang sedikit.
Atau jika sudah diberi lebih pun, dirinya akan selalu menambah lebih. Ketika ia
ditimpa malapetaka (sakit dan kefakiran), ia pun putus asa.
Namun lihatlah
bagaimana jika ia mendapatkan nikmat setelah itu? Bagaimana jika ia diberi
kekayaan dan kesehatan setelah itu? Ia pun lalai dari bersyukur pada Allah,
bahkan ia pun melampaui batas sampai menyatakan semua rahmat (sehat dan
kekayaan) itu didapat karena ia memang pantas memperolehnya. Inilah yang
diisyaratkan dalam firman Allah Ta’ala, “Dan jika Kami merasakan
kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia
berkata: “Ini adalah hakku.”(QS. Fushshilat: 50)
Sifat orang beriman tentu saja
jika ia diberi suatu nikmat dan kesuksesan yang ia idam-idamkan, ia pun
bersyukur pada Allah. Bahkan ia pun khawatir jangan-jangan ini adalah istidroj
(cobaan yang akan membuat ia semakin larut dalam kemaksiatan yang ia terjang).
Sedangkan jika hamba tersebut tertimpa musibah pada harta dan anak
keturunannya, ia pun bersabar dan berharap karunia Allah agar lepas dari
kesulitan serta ia tidak berputus asa
Sumber: muslim.or.id

Semoga Sobat hari ini lebih baik dari kemarin, jika ada yang ingin ditanyakan terkait program RZ Cilegon, silahkan isikan komentar dibawah ini
EmoticonEmoticon