Imam al Ghazali Rahimahullah di
dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin membuat perumpamaan shalat. Beliau menyatakan:
“Perumpamaan orang yang mendirikan shalat secara hakekat lahir saja dengan
mengabaikan hakekat shalat batinnya, bagaikan seseorang yang menghadiahkan
seorang putri yang sudah mati, tidak bernyawa lagi, kepada seorang Raja Agung.
Dan perumpamaan orang yang lupa dalam mendirikan hakekat shalatnya yang lahir,
bagaikan seseorang yangmenghadiahkan seorang putri yang putus kaki tangannya
dan buta pula matanya, kepada seorang Raja. Kedua orang ini akan dimurkai oleh
raja disebabkan hadiahnya. Mereka akan disiksa dan dianiaya oleh raja, karena
menghina kedudukan raja dan mengabaikan haknya.
Karena ada dua hal mendasar dalam
shalat. Ada yang bisa dilihat secara lahir dan ada yang tersirat. Shalat
seseorang itu tidak dianggap sempurna melainkan dengan menerapkan kedua hal ini
sekaligus. Adapun dasar yang dapat dilihat secara lahir adalah seperti gerakan
berdiri, membaca Al Fatihah, rukuk, sujud dan gerakan dalam shalat lainnya.
Sedang dasar batin adalah khusyu’, hadirnya hati, keikhlasan yang sempurna, meneliti
dan memahami makna-makna bacaan shalat, tasbih, dan yang semisalnya.
Selanjutnya Imam Ghazali
Rahimahullahu berkata: “Perumpamaan itu sama dengan anda yang menghadiahkan
shalat kepada Allah. Waspadalah, jangan anda menghadiahkan shalatmu dengan sifat-sifat
itu, sehingga anda patut menerima siksaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala”. Demikian
maksudnya.
Karenanya, supaya shalat ini
utuh, terdiri dari jasad dan ruh, maka kita harus bisa menghadirkan ruh di
dalam pikiran dan hati kita disaat shalat. Sebab itu sering dikatakan,
“janganlah seorang shalat di masjid tapi hati dan pikirannya melayang
kemana-mana, tidak tertuju kepada Allah Ta’ala”. Shalat juga diterjemahkan
dengan do’a jika dilihat dari asal kata bahasa arabnya. Tapi bagaimana
dikatakan itu doa sedangkan di dalamnya tidak ada dzikrullah?! Jangan ada
sebuah doa yang dilantunkan dengan indah dan baik, tapi hatinya lalai dari
mengingat Allah Azza Wajalla. Sebab itu Allah Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya Aku Ini adalah
Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain aku, maka sembahlah Aku dan Dirikanlah
shalat untuk mengingat Aku”. (Thaha: 14)
Shalat adalah bagian dari cara
Allah untuk member petunjuk kepada kita. Allah memberikan pengajaran kepada
kita melalui gerakan-gerakan dalam shalat, baik saat berdiri, rukuk, sujud
menyembah, atau saat duduk. Oleh sebab itu, mari kita pelajari apa yang Allah
ajarkan kepada kita agar shalat dapat memberikan bekas dalam kehidupan
sehari-hari, sehingga dapat membentengi kita dari perbuatan keji dan munkar.
sumber: darussalam-online.com

Semoga Sobat hari ini lebih baik dari kemarin, jika ada yang ingin ditanyakan terkait program RZ Cilegon, silahkan isikan komentar dibawah ini
EmoticonEmoticon