Seperti kita ketahui bersama
bahwa dosa itu terbagi menjadi dua yaitu dosa besar dan dosa kecil. Namun perlu
diketahui bahwa dosa kecil sebenarnya bisa menjadi besar, jika dilakukan karena
sebab-sebab berikut. Kita perlu mengetahui hal ini agar kita tidak menganggap
remeh suatu dosa.
PERTAMA: Dosa kecil tersebut
sudah menjadi kebiasaan dan dilakukan terus menerus.
“Tidak ada dosa besar jika
dihapus dengan istighfar (meminta ampun pada Allah) dan tidak ada dosa kecil
jika dilakukan terus menerus.”
Kalau dosa besar sudah ditaubati,
maka janganlah diikuti dengan dosa lainnya yang semisal, begitu pula janganlah
diteruskan dengan dosa-dosa kecil.
KEDUA : Dosa bisa dianggap besar
di sisi Allah jika seorang hamba menganggap remeh dosa tersebut. Oleh
karenanya, jika seorang hamba menganggap besar suatu dosa, maka dosa itu akan
kecil di sisi Allah. Sedangkan jika seorang hamba menggaggap kecil (remeh)
suatu dosa, maka dosa itu akan dianggap besar di sisi Allah. Dari sinilah jika
seseorang mengganggap besar suatu dosa, maka ia akan segera lari dari dosa dan
betul-betul membencinya.
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu
mengatakan,
“Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk di sebuah gunung dan khawatir gunung tersebut akan menimpanya. Sedangkan seorang yang fajir (yang gemar maksiat), ia akan melihat dosanya seperti seekor lalat yang lewat begitu saja di hadapan batang hidungnya.” (HR. Bukhari)
“Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk di sebuah gunung dan khawatir gunung tersebut akan menimpanya. Sedangkan seorang yang fajir (yang gemar maksiat), ia akan melihat dosanya seperti seekor lalat yang lewat begitu saja di hadapan batang hidungnya.” (HR. Bukhari)
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu
mengatakan,
“Sesungguhnya kalian mengerjakan amalan (dosa) di hadapan mata kalian tipis seperti rambut, namun kami (para sahabat) yang hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggap dosa semacam itu seperti dosa besar.”(HR. Bukhari)
“Sesungguhnya kalian mengerjakan amalan (dosa) di hadapan mata kalian tipis seperti rambut, namun kami (para sahabat) yang hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggap dosa semacam itu seperti dosa besar.”(HR. Bukhari)
Bilal bin Sa’ad rahimahullah
mengatakan, “Janganlah engkau melihat kecilnya suatu dosa, namun hendaklah
engkau melihat siapa yang engkau durhakai.”
KETIGA: Memamerkan suatu dosa.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
“Setiap umatku akan diampuni kecuali orang yang melakukan jahr. Di antara bentuk melakukan jahr adalah seseorang di malam hari melakukan maksiat, namun di pagi harinya –padahal telah Allah tutupi-, ia sendiri yang bercerita, “Wahai fulan, aku semalam telah melakukan maksiat ini dan itu.” Padahal semalam Allah telah tutupi maksiat yang ia lakukan, namun di pagi harinya ia sendiri yang membuka ‘aib-‘aibnya yang telah Allah tutup.” (HR. Bukhari dan Muslim)
“Setiap umatku akan diampuni kecuali orang yang melakukan jahr. Di antara bentuk melakukan jahr adalah seseorang di malam hari melakukan maksiat, namun di pagi harinya –padahal telah Allah tutupi-, ia sendiri yang bercerita, “Wahai fulan, aku semalam telah melakukan maksiat ini dan itu.” Padahal semalam Allah telah tutupi maksiat yang ia lakukan, namun di pagi harinya ia sendiri yang membuka ‘aib-‘aibnya yang telah Allah tutup.” (HR. Bukhari dan Muslim)
KEEMPAT: Dosa tersebut dilakukan
oleh seorang alim yang dia menjadi panutan bagi yang lain.
“Barangsiapa melakukan suatu
amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat
baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya
sedikitpun.” (HR. Muslim)
Sebagaimana dosa seorang alim
bisa berlipat-lipat jika ada yang mengikuti melakukan dosa tersebut, maka
begitu pula dengan kebaikan yang ia lakukan. Jika kebaikan tersebut diikuti
orang lain, maka pahalamu akan semakin berlipat untuknya. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa melakukan suatu
amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya
ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan
mengurangi ganjaran yang mereka peroleh.”[6]
Semoga Allah selalu memudahkan
kita untuk melaksanakan kebaikan dan menghindarkan kita dari setiap dosa. Amin
Ya Mujibas Saa-ilin.
www.rumahzakat.org

1 comments:
Terimakasih Atas Ilmu Yang diberikan Pada kami semoga bermanfaat, Amiiin
Semoga Sobat hari ini lebih baik dari kemarin, jika ada yang ingin ditanyakan terkait program RZ Cilegon, silahkan isikan komentar dibawah ini
EmoticonEmoticon