Sobat, ini adalah lanjutan dari
postingan tai pagi tentang 19 tanda gagal berpuasa Ramadhan part 1.
8. Memutuskan tali silaturrahim.
Ketika menyambut datangnya
Ramadhan Rasulullah Saw bersabda: “…Barangsiapa menyambung tali persaudaraan
(silaturrahim) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya.
Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan
rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya…” Puasa mendidik pribadi-pribadi
untuk menumbuhkan jiwa kasih sayang dan tali cinta.
Pelaku shiyam jiwanya dibersihkan
dari kekerasan hati dan kesombongan, diganti dengan perangai yang lembut, halus
dan tawadhu. Apabila ada atau tidak adanya Ramadhan tidak memperkuat hubungan
kekeluargaan dan persaudaraan, itu tanda kegagalan.
9. Menyia-nyiakan waktu.
Al-Qur’an mendokumentasikan
dialog Allah Swt dengan orang-orang yang menghabiskan waktu mereka untuk
bermain-main.
“Allah bertanya: ‘ Berapa
tahunkan lamanya kamu tinggal di bumi?’
Mereka menjawab: ‘Kami tinggal di bumi sehari atau setengah hari. maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’
Mereka menjawab: ‘Kami tinggal di bumi sehari atau setengah hari. maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’
Allah berfirman: ‘Kamu tidak
tingal di bumi melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.
"Maka apakah kamu mengira sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara
main-main (saja), dan kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha
Tinggi Allah, Raja Yang sebenarnya; tidak Tuhan yang berhak disembah selain
Dia, Tuhan yang mempunyai ‘Arsy yang mulia.” (Al-Mu’minun: 112-116)
Termasuk gagal dalam ber-Ramadhan
orang yang lalai atas karunia waktu dengan melakukan perbuatan sia-sia,
kemaksiatan, dan hura-hura. Disiplin waktu selama Ramadhan semestinya membekas
kuat dalam bentuk cinta ketertiban dan keteraturan.
10. Labil dalam menjalani hidup.
Labil alias perasaan gamang,
khawatir, risau, serta gelisah dalam menjalani hidup juga tanda gagal Ramadhan.
Pesan Rasulullah Saw “Sesungguhnya telah datang bulan Ramadhan yang penuh
berkah. Allah telah memfardhukan atas kamu berpuasa di dalamnya. Dibuka semua
pintu surga, dikunci semua pintu neraka dan dibelenggu segala syetan. Di
dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tiada
diberikan kebajikan malam itu, maka sungguh tidak diberikan kebajikan atasnya.”
(HR Ahmad, Nasa’i, Baihaqi dari Abu Hurairah)
Bila seseorang meraih berkah
bulan suci ini, jiwanya mantap, hatinya tenteram, perasaannya tenang dalam
menghadapi keadaan apapun.
11. Tidak bersemangat mensyiarkan
Islam.
Salah satu ciri utama alumnus
Ramadhan yang berhasil ialah tingkat taqwa yang meroket. Dan setiap orang yang
ketaqwaannya semakin kuat ialah semangat mensyiarkan Islam. Berbagai kegiatan
‘amar ma’ruf nahiy munkar dilakukannya, karena ia ingin sebanyak mungkin orang
merasakan kelezatan iman sebagaimana dirinya. Jika semangat ini tak ada, gagal
lah Ramadhan seseorang.
12. Khianat terhadap amanah.
Shiyam adalah amanah Allah yang
harus dipelihara (dikerjakan) dan selanjutnya dipertanggungjawabkan di
hadapan-Nya kelak.
Shiyam itu ibarat utang yang
harus ditunaikan secara rahasia kepada Allah. Orang yang terbiasa memenuhi
amanah dalam ibadah sir (rahasia) tentu akan lebih menepati amanahnya terhadap
orang lain, baik yang bersifat rahasia maupun yang nyata. Sebaliknya orang yang
gagal Ramadhan mudah mengkhianati amanah, baik dari Allah maupun dari manusia.
13. Rendah motivasi hidup
berjama’ah.
Frekuensi shalat berjama’ah di
masjid meningkat tajam selama Ramadhan. Selain itu, lapar dan haus menajamkan
jiwa sosial dan empati terhadap kesusahan sesama manusia, khususnya sesama
Muslim. Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang berjuang secara berjama’ah, yang
saling menguatkan.
“Sesungguhnya Allah mencintai
orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam saatu barisan yang teratur,
seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaf: 4)
Ramadhan seharusnya menguatkan motivasi untuk hidup berjama’ah.
14. Tinggi ketergantungannya pada
makhluk.
Hawa nafsu dan syahwat yang
digembleng habis-habisan selama bulan Ramadhan merupakan pintu utama
ketergantungan manusia pada sesama makhluk. Jika jiwa seseorang berhasil
merdeka dari kedua mitra syetan itu setelah Ramadhan, maka yang mengendalikan
dirinya adalah fikrah dan akhlaq. Orang yang tunduk dan taat kepada Allah lebih
mulia dari mereka yang tunduk kepada makhluk.
15. Malas membela dan menegakkan
kebenaran.
Sejumlah peperangan dilakukan
kaum Muslimin melawan tentara-tentara kafir berlangsung di bulan Ramadhan.
Kemenangan Badar yang spektakuler itu dan penaklukan Makkah (Futuh Makkah)
terjadi di bulan Ramadhan. Di tengah gelombang kebathilan dan kemungkaran yang
semakin berani unjuk gigi, para alumni akademi Ramadhan seharusnya semakin
gigih dan strategis dalam membela dan menegakkan kebenaran. Jika bulan suci ini
tidak memberi bekal perjuangan baru yang bernilai spektakuler, maka kemungkinan
besar ia telah meninggalkan kita sebagai pecundang.
16. Tidak mencintai kaum dhuafa.
Syahru Rahmah, Bulan Kasih Sayang
adalah nama lain Ramadhan, karena di bulan ini Allah melimpahi hamba-hamba-Nya
dengan kasih sayang ekstra. Shiyam Ramadhan menanam benih kasih sayang terhadap
orang-orang yang paling lemah di kalangan masyarakat. Faqir miskin, anak-anak
yatim dan mereka yang hidup dalam kemelaratan. Rasa cinta kita terhadap mereka
seharusnya bertambah. Jika cinta jenis ini tidak bertambah sesudah bulan suci
ini, berarti Anda perlu segera instrospeksi.
17. Salah dalam memaknai akhir
Ramadhan.
Khalifah Umar ibn Abdul Aziz
memerintahkan seluruh rakyatnya supaya mengakhiri puasa dengan memperbanyak
istighfar dan memberikan sadaqah, karena istighfar dan sadaqah dapat menambal
yang robek-robek atau yang pecah-pecah dari puasa. Menginjak hari-hari
berlalunya Ramadhan, mestinya kita semakin sering melakukan muhasabah
(introspeksi) diri.
“Wahai orang-orang beriman,
bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah
diperbuatnya untuk hari esok dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hasyr: 18)
18. Sibuk mempersiapkan Lebaran.
Kebanyakan orang semakin
disibukkan oleh urusan lahir dan logistik menjelah Iedul Fitri. Banyak yang
lupa bahwa 10 malam terakhir merupakan saat-saat genting yang menentukan nilai
akhir kita di mata Allah dalam bulan mulia ini. Menjadi pemenang sejati atau
pecundang sejati.
Konsentrasi pikiran telah
bergeser dari semangat beribadah, kepada luapan kesenangan merayakan Idul Fitri
dengan berbagai kegiatan, akibatnya lupa seharusnya sedih akan berpisah dengan
bulan mulia ini.
19. Idul Fitri dianggap hari
kebebasan.
Secara harfiah makna Idul Fitri
berarti “hari kembali ke fitrah”. Namun kebanyakan orang memandang Iedul Fitri
laksana hari dibebaskannya mereka dari “penjara” Ramadhan. Akibatnya, hanya
beberapa saat setelah Ramadhan meninggalkannya, ucapan dan tindakannya kembali
cenderung tak terkendali, syahwat dan birahi diumbar sebanyak-banyaknya. Mereka
lupa bahwa Iedul Fitri seharusnya menjadi hari di mana tekad baru dipancangkan
untuk menjalankan peran khalifah dan abdi Allah secara lebih profesional
Kesadaran penuh akan kehidupan
dunia yang berdimensi akhirat harus berada pada puncaknya saat Iedul Fitri, dan
bukan sebaliknya.
(Sumber Majalah Hidayatullah)

Semoga Sobat hari ini lebih baik dari kemarin, jika ada yang ingin ditanyakan terkait program RZ Cilegon, silahkan isikan komentar dibawah ini
EmoticonEmoticon