Dikisahkan dalam Kitab Min
‘Ajaa’ibish Shadaqah, suatu malam ada orang fakir mengetuk pintu rumah seorang
ulama, lalu orang alim itu bertanya kepada istrinya tentang sesuatu yang
dimilikinya.
Sang istri berkata, “Kita tidak
memiliki apa-apa selain sepuluh butir telur ayam.”
Suaminya berkata, ”Berikanlah
telur-telur itu kepadanya.” Maka telur itu diberikannya kepada si fakir, dan
disisakan satu butir telur untuk anaknya tanpa sepengetahuan suaminya. Tak lama
kemudian, datang seorang tamu mengetuk pintu dan membawa rejeki yang
diperuntukkan untuk keduanya sebanyak 90 dinar.
Lalu orang alim itu bertanya
kepada istrinya, ”Berapa telur yang kamu berikan kepada si fakir?” Istrinya
menjawab, ”sembilan butir.” Lalu beliau berkata, ”Kita mendapatkan 90 dinar,
setiap kebaikan dilipatkan sepuluh kali.”
Kisah ini hanyalah contoh tentang
sedekah yang membuahkan keberkahan. Qadarullah, Allah berkehendak menjadikan
berkah tersebut begitu nyata dan dapat dihitung dengan rumus matematika, Allah
menggantinya dengan sepuluh kali lipat.
Meski tentunya tak selalunya
’reward’ itu bisa diindera sedemikian rupa. Yang pasti, seseorang akan
mendapatkan hasil lebih banyak dari apa yang ia sedekahkan karena Allah.
Penderma Lebih Butuh dari Penerima Sekilas, tatakala seseorang mendermakan
hartanya kepada orang fakir, maka si fakirlah yang mendapat manfaat dari
sedekah itu. Namun sejatinya, keuntungan yang didapatkan oleh penderma, jauh
lebih banyak dan lebih besar. Tidak berlebihan jikalau disimpulkan bahwa
kebutuhan kita untuk bersedekah itu lebih besar dari kebutuhan orang fakir
terhadap harta yang kita sedekahkan.
Bukankah Allah telah berfirman,
”Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka
(faedahnya) itu untuk kamu sendiri.” (QS. al-Baqarah: 272)
Begitupun dengan firman-Nya, ”In
ahsantum ahsantum li anfusikum”, jika kamu berbuat baik, maka sesungguhnya kamu
berbuat baik untuk diri kamu sendiri. Ini menjadi kaidah umum untuk seluruh
kebaikan. Adapun kebaikan berupa sedekah sangat nyata dirasakan pengaruhnya
oleh orang yang pernah mengalaminya. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam telah
meyakinkan kita, bahwa harta tidak berkurang dengan disedekahkan, “Tidaklah
berkurang harta yang disedekahkan.” (HR Muslim)
Imam an-Nawawi menjelaskan dalam
Syarah Muslim, bahwa maksud tidak berkurang itu mengandung dua pengertian.
Pertama bahwa harta itu diberkahi dan dengannya madharat bisa tercegah,
sehingga berkurangnya harta secara fisik tergantikan dengan keberkahan, dan ini
bisa dirasakan dan terbukti sebagaimana pengalaman yang bisa disaksikan. Yang
kedua, meskipun secara dzatnya berkurang, namun dari sisi pahala lebih banyak
dari harta yang berkurang.”
Ada hadits lain yang menguatkan
bahwa, setiap sedekah yang kita keluarkan, pasti akan mendapatkan ganti.
Sebagai pengabulan doa dari para malaikat sebagaimana sabda Nabi shalallahu
‘alaihi wasallam, Tiada datang waktu pagi melainkan ada dua malaikat yang turun
atas manusia, lalu satunya berdoa, “Ya Allah, Berilah ganti bagi yang
bersedekah.” (HR. Bukhari)
Allah tidak akan menjadikan orang
yang berdema menjadi pailit. Bahkan sebaliknya, berkah yang melimpah akan
disandang oleh para dermawan. Logika iman mengajarkan, bahwa sedekah berarti
investasi kepada Allah yang pasti untung dan mustahil merugi. Jika seseorang
atau badan usaha yang profesional, datang kepada kita dengan cashflow yang
menjanjikan keuntungan, ditambah lagi dengan kemungkinan minimnya resiko, lalu
menawarkan saham untuk kita, tentulah kita akan bergegas untuk menyambutnya,
dan menanamkan modal demi keuntungan yang besar. Meskipun keuntungan itu masih
bersifat asumsi maupun prediksi. Masih ada resiko kerugian, atau bahkan
kebangkrutan. Baik disebabkan oleh keteledoran dalam mengelola usaha, atau
adanya faktor eksternal di luar perhitungan. Anehnya ketika tawaran itu datang
dari Dzat yang menjanjikan keuntungan jauh lebih tinggi, Dia juga Maha Menepati
janji, dan Mahakuasa membagi rejeki, masih ada orang yang meragukan untuk
menyambut tawaran-Nya. Masih berfikir jikalau investasi itu akan berujung pada
kerugian dan kemiskinan. Alangkah buruk persangkaan mereka kepada Allah.
Bagaimana mungkin akan merugi,
investasi usaha yang dikelola oleh Allah yang Maha Mengatur segala alam
semesta? Mari kita simak, jaminan keuntungan yang Allah janjikan bagi siapapun
yang berkenan menanam investasinya kepada-Nya, ”Siapakah yang mau meminjamkan
kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan)
pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.” (QS.
al-Hadiid: 11)
Adakah yang lebih layak dipercaya
selain Allah, yang Mahakaya, dan Maha Berkuasa atas segalanya? Bagaimana
mungkin orang yang berakal ragu untuk menitipkan investasinya kepada Allah?
Allah subhanahu wa ta’ala pun telah berjanji dalam hadits qudsi, “Dari Abu
Hurairah berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Allah Ta’ala
berfirman, “Berinfaklah wahai Anak Adam, niscaya Aku akan berinfak untukmu.”
(HR al-Bukhari)
Pun begitu, ganti yang dijanjikan
itu belum tampak di depan mata. Hanya orang yang yakin dan tawakal yang berani
mengambil keputusan. Toh, fakta menunjukkan, tak ada cerita orang yang miskin
lantaran over dosis dalam berderma. Keberkahan sedekah tak hanya mengundang
datangnya kemaslahatan yang diharapkan, tapi juga mencegah kemadharatan yang
ditakutkan. Sedekah yang kita lakukan seakan menjadi tebusan hingga di kemudian
hari kita aman dari suatu bahaya yang mengancam.
Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam
mengisahkan tentang Yahya bin Zakariya yang memerintahkan Bani Israil dengan
lima hal, salah satunya adalah, “Aku memerintahkan kalian untuk bersedekah.
Karena perumpamaan sedekah itu seperti seseorang yang ditawan musuh, lalu
tatkala musuh sudah memegang leher dan hendak menebasnya, tiba-tiba dia
berkata, ”Aku menebusnya dari kalian dengan harta sedikit dan yang banyak.” Maka
iapun berhasil membebaskan diri dari mereka.” (HR Tirmidzi, beliau mengatakan,
”hadits hasan shahih”)
Ibnu Syaqiq bercerita, bahwa
Abdullah bin Mubarak pernah ditanya oleh seseorang tentang luka di lututnya
yang terus mengeluarkan nanah sejak tujuh tahun. Dia juga sudah berusaha
menempuh berbagai macam pengobatan, pergi ke tempat para tabib, namun juga
belum menunjukkan hasilnya. Maka Ibnul Mubarak menyarankan, ”Pergilah dan
buatkanlah sebuah sumur di tempat perkampungan yang membutuhkan air, saya berharap
air bisa mengalir di sana, dan ketika itu lukamu akan sembuh. Orang itupun
melakukan saran beliau dan kemudian sembuh.
Buah Sedekah di Akhirat
Begitulah keajaiban faedah
sedekah di dunia. Sedangkan faedah sedekah di akhirat lebih hebat lagi. Karenanya,
Andai saja manusia setelah mati dikembalikan ke dunia, maka yang ingin mereka
lakukan adalah bersedekah, ”Wahai Rabbi, mengapa Engkau tidak menangguhkan
(kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan
aku termasuk orang-orang yang saleh” (QS. al-Munaafiqun: 10)
Ini menunjukkan betapa mereka
melihat bahwa di akhirat sedekah sangat bermanfaat. Orang yang bersedekah akan
tahu, bahwa harta sejati yang menjadi miliknya adalah harta yang
disedekahkannya. Sedangkan harta yang tersisa, atau telah dipergunakan itu akan
fana. Ketika ummul mukminin ditanya oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam
tentang kambing yang disembelih, adakah masih tersisa? Aisyah menjawab, ”Telah
habis dibagi, hanya tersisa sebelah bahunya saja.” Nabi shalallahu ‘alaihi
wasallam bersabda, ”(yang benar), masih utuh semua, kecuali sebelah bahunya.”
(HR Muslim)
Yang dibagi-bagikan itulah
hakikat harta yang sebenarnya, sedangkan yang tersisa itu bukanlah menjadi
miliknya selain hanya sementara saja. Kemurahan Allah yang melipatkan pahala
sedekah hingga 700 kali lipat dan bahkan masih lebih banyak lagi. Kedermawanan
akan mendekatkan pelakunya menuju jannah, sekaligus membentengi dan menjauhkan
pelakunya dari neraka. Ya Allah, jauhkanlah kami dari sifat bakhil. Amin.
Sumber :
hikmah-sufi.blogspot.co.id

Semoga Sobat hari ini lebih baik dari kemarin, jika ada yang ingin ditanyakan terkait program RZ Cilegon, silahkan isikan komentar dibawah ini
EmoticonEmoticon