![]() |
| www.rumahzakat.org |
Ibnu Qayyim Al Jauziyah pernah
membahas tentang Penyakit Asmara. Ada sebuah hadist yang menyebutkan bahwa:
“Ruh-ruh itu ibarat barisan
prajurit yang teratur, yang saling mengenal akan saling serasi dan yang tidak
saling mengenal akan saling membenci.” [HR. Bukhari]
Memang benar, kita akan mencintai
dan tertarik dengan sesuatu manakala sesuai dengan kita. Tidak hanya daya tarik
karena penampilan, namun juga kesamaan dalam kebiasaan, tujuan, keinginan, dan
perangai. Sesuai kata Ibnu Qayyim, Allah telah memutuskan bahwa di antara
manusia ada keselarasan dan kecocokan. Manusia terdorong untuk menyukai
perangai yang mirip dengan mereka dan menolak perangai yang tidak mirip dengan
mereka. Rahasia keharmonisan di dunia ini dikarenakan adanya kesamaan-kesamaan
di antara berbagai tabiat dan karakter manusia. Manusia condong pada
objek-objek yang sama, sedangkan objek-objek yang tidak sama cenderung
mengabaikan satu sama lainnya.
Kita pun secara psikis akan
merasa nyaman manakala kita bersama dengan orang yang memiliki banyak persamaan
dengan kita. Istilah “nyaman” sangat relatif bagi setiap orang. Nyaman itu
dapat diartikan memberi ketenangan, tidak membenci, dan “pokoknya nyaman lah”.
Rasa nyaman tersebut akan menimbulkan ketertarikan dalam hati hingga
menumbuhkan cinta. Cinta karena persamaan-persamaan di antara dua pihak tidak
akan memudar kecuali ada faktor yang membuatnya memudar. Cinta itu pun bisa
menimbulkan penyakit asmara (benarkah? Iya, jawabannya). Kata Ibnu Qayyim,
penyakit asmara merupakan penyakit hati yang berbeda dengan semua penyakit lain
dalam hal gejala, penyebab, dan pengobatannya. Jika penyakit ini sudah akut,
para dokter tidak akan mampu menyembuhkannya dan orang yang tertimpa penyakit
itu tidak akan mampu untuk menahan efeknya. Cukup menyeramkan!
Tapi memang benar begitu
keadaannya, berdasarkan cerita atau curhatan dari banyak orang yang sedang
terserang penyakit ini, termasuk di dalamnya orang yang sedang “kejatuhan
cinta”. Memang benar, hati serasa sedang berpenyakit. Katanya sih, makan tak
enak, tidur pun tak nyenyak, tidak konsen, kepikiran macem-macem tidak fokus
(benar-benar menderita, bisa jadi kurus karena kejatuhan cinta). Begitulah
penderitaan karena cinta…
Rasulullah bersabda: Seseorang
tidak mencintai suatu kaum kecuali ia akan dihimpun bersama mereka (pada hari
kiamat). [HR. Al-Hakim]
Jadi siapakah yang kita cintai
maka kita akan dipertemukan dengannya pada hari kiamat kelak. Tentu akan jadi
hal yang sangat membahagiakan. Jadi harus benar-benar pilih-pilih siapa saja
yang bakal kita cintai *kalau saja cinta bisa memilih*. Hmm, maksudnya kalau
yang kita cintai adalah orang-orang sholeh, akan menjadi bahagia. Tapi kalau
bukan, duh mengerikan, karena kita akan dikumpulkan bersama mereka. Nah, kalau
tidak bertaqwa bagaimana? (*ingat neraka). Na’ udzubillahi min dzalik.
Kembali tentang cinta tadi…
Cinta menuntut keinginan kuat untuk memiliki sesuatu yang dicintai tadi. Jika tuntutan itu tidak terpenuhi, maka akan menimbulkan penyakit asmara sesuai pembahasan di atas. Saya pun berpikir, inikah cinta? Mencontek kata-kata salah satu tokoh yang ada dalam serial Kera Sakti “begitulah cinta, deritanya tiada akhir!” *lebay! :D Pada hakekatnya, jika penyakit asmara menjadi sebuah penyakit, tentu saja ada obatnya *dengan bahasa lain* penyakit ini tentunya dapat diobati. Obatnya, ya itu tadi. Bagi orang yang saling jatuh cinta, satu-satunya obat adalah mendapatkan objek cintanya dengan cara yang sah. Itulah obatnya. Tahu kan bagaimana caranya? Rasulullah telah mengarahkan kita menuju cara-cara terbaik untuk memperoleh apa yang kita cintai. ;) Jika tidak menggunakan cara tersebut (yang sah) untuk mencapai objek cintanya, maka penyakit ini akan menjadi penyakit yang berat. Ia akan berada dalam keputusasaan manakala cintanya tetap bersemayam.
Cinta menuntut keinginan kuat untuk memiliki sesuatu yang dicintai tadi. Jika tuntutan itu tidak terpenuhi, maka akan menimbulkan penyakit asmara sesuai pembahasan di atas. Saya pun berpikir, inikah cinta? Mencontek kata-kata salah satu tokoh yang ada dalam serial Kera Sakti “begitulah cinta, deritanya tiada akhir!” *lebay! :D Pada hakekatnya, jika penyakit asmara menjadi sebuah penyakit, tentu saja ada obatnya *dengan bahasa lain* penyakit ini tentunya dapat diobati. Obatnya, ya itu tadi. Bagi orang yang saling jatuh cinta, satu-satunya obat adalah mendapatkan objek cintanya dengan cara yang sah. Itulah obatnya. Tahu kan bagaimana caranya? Rasulullah telah mengarahkan kita menuju cara-cara terbaik untuk memperoleh apa yang kita cintai. ;) Jika tidak menggunakan cara tersebut (yang sah) untuk mencapai objek cintanya, maka penyakit ini akan menjadi penyakit yang berat. Ia akan berada dalam keputusasaan manakala cintanya tetap bersemayam.
Hmm, jadi… mengutip kata
Rasulullah untuk mengobati penyakit ini,
“Kami tidak melihat cara terbaik orang yang saling mencintai kecuali nikah”. [HR. Ibnu Majah]
“Kami tidak melihat cara terbaik orang yang saling mencintai kecuali nikah”. [HR. Ibnu Majah]
Siapa yang berani saling jatuh
cinta maka berani lah untuk menikah, agar hati dan jiwa lebih sehat tentunya.
sumber: rninggalih.wordpress.com

Semoga Sobat hari ini lebih baik dari kemarin, jika ada yang ingin ditanyakan terkait program RZ Cilegon, silahkan isikan komentar dibawah ini
EmoticonEmoticon