Sebagai seorang muslim dan
makhluk sosial, kita diperintahkan untuk merealisasikan keimanan kita dengan
berbuat baik dan mencintai sesama muslim seperti kita mencintai diri kita
sendiri, Hal ini berdasarkan pada sabda Nabi saw.:
Artinya: “Salah seorang diantara
kalian tidak beriman sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai
dirinya sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim)
![]() |
| www.rumahzakat.org |
Para ulama berkata, “Makna hadits
di atas adalah seseorang tidak akan memiliki keimanan yang sempurna (bukan
bermakna tidak beriman). Sebab pokok keimanan sudah bisa dicapai oleh seseorang
sekalipun tidak memiliki sifat yang disebutkan di dalam hadis tersebut.
Sedangkan makna mencintai saudaranya adalah pada hal-hal yang ada kaitannya
dengan ketaatan dan yang hukumnya mubah, bukan hal-hal yang haram. Keterangan
ini bisa dilihat pada riwayat versi An-Nasaa’i yang terungkap dalam hadis
berikut: “Salah seorang dari kalian tidak beriman sampai dia mencintai
saudaranya pada hal-hal yang menyangkut kebaikan sebagaimana dia mencintai
dirinya sendiri.”
Asy-Syarikh Abu ‘Amr bin
Ash-Shalah berkata, “Hal ini terkadang dikategorikan sebagai sesuatu yang sulit
direalisasikan. Padahal sebenarnya bukanlah seperti itu. Sebab makna hadis itu adalah
tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian sampai dia mencintai
saudaranya sesama muslim sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri. Dengan
demikian proses realisasi hal ini (mencintai saudara sesama muslim seperti
mencintai diri sendiri) sudah bisa dicapai hanya dengan tidak berniat menyaingi
saudaranya itu dengan tujuan yang kurang baik. Misalnya dengan tidak ingin
mengurangi kenikmatan yang diterima oleh salah seorang saudaranya. Bersikap
seperti ini sebenarnya cukup mudah untuk orang yang memiliki hati sehat dan
sebaliknya akan sulit bagi orang yang hatinya menyimpan rasa dendam.”
Dalam hadis riwayat Ibnu Hibban
dijelaskan لايبلغ عبد حقيقة الايمان
(seseorang tidak akan mencapai hakikat keimanan), maksudnya adalah kesempurnaan
iman. Tetapi orang yang tidak melakukan apa yang ada dalam hadis ini, dia
tidaklah lantas menjadi kafir. Jadi hadis di atas merupakan salah satu indikasi
dari sempurnanya iman seseorang, bukan berarti bahwa seseorang yang belum bisa
mencintai sesama muslim sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri lantas
dihukumi kafir.
Terkait dengan kata يُحِبَّ (mencintai) dalam
redaksi hadis di atas, Imam Nawawi mengatakan, “Cinta adalah kecenderungan
terhadap sesuatu yang diinginkan. Sesuatu yang dicintai tersebut dapat berupa
sesuatu yang dapat diindera, seperti bentuk, atau dapat juga berupa perbuatan
seperti kesempurnaan, keutamaan, mengambil manfaat atau menolak bahaya.
Kecenderungan di sini bersifat ikhtiyari (kebebasan), bukan bersifat alami atau
paksaan.
Maksud lain dari cinta di sini
adalah cinta dan senang jika saudaranya mendapatkan seperti apa yang dia
dapatkan, baik dalam hal-hal yang bersifat indrawi atau maknawi.” Abu Zinad bin
Siraj mengatakan, “Secara dzhahir hadis ini menuntut kesamaan, sedang pada
realitasnya menuntut pengutamaan, karena setiap orang senang jika ia lebih dari
yang lainnya. Maka apabila dia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya
sendiri, berarti ia termasuk orang-orang yang utama."
sumber: kangmujib.tk

Semoga Sobat hari ini lebih baik dari kemarin, jika ada yang ingin ditanyakan terkait program RZ Cilegon, silahkan isikan komentar dibawah ini
EmoticonEmoticon