![]() |
| www.rumahzakat.org |
Kita pasti pernah mendengar
peribahasa ini, “Siapa menanam, pasti dia yang akan menuai.” Maksudnya, jika
seseorang menanam kebaikan, maka ia akan menuai kebaikan pula. Dan jika
seseorang
vang menanam kejelekan, maka ia akan menuai hasil yang jelek pula. Berikut beberapa contoh dalam Al-Qur’an dan Hadist yang menceritakan maksud dari peribahasa ini. “Menjaga hak Allah, Menuai penjagaan Allah”
vang menanam kejelekan, maka ia akan menuai hasil yang jelek pula. Berikut beberapa contoh dalam Al-Qur’an dan Hadist yang menceritakan maksud dari peribahasa ini. “Menjaga hak Allah, Menuai penjagaan Allah”
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa
sallam pernah mengajarkan pada Ibnu ‘Abbas sebuah kalimat, “Jagalah Allah,
niscaya Allah akan menjagamu.” Artinya, menjaga batasn-batasan, hak-hak,
perintah, dan larangan-larangan Allah. Yaitu, seseorang menjaganyadengan
melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, dan tidak melampaui
batasdari batasan-Nya (berupa perintah maupun larangan Allah). Yang utama untuk
dijaga adalah shalat lima waktu (wajib). Selain itu, yang patut dijaga adalah
pendengaran, penglihatan, dan lisan dari berbagai keharaman. Begitu pula yang
mesti dijaga adalah kemaluan.
Barangsiapa menjaga diri dengan
melakukan perintah dan menjauhi larangan, maka ia akan mendapatkan dua
penjagaan. Yakni, Allah akan menjaga urusan dunianyam yaitu ia akan mendapatkan
penjagaan diri, anak, keluarga dan harta. Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan,
“Barang siapa menjaga (hak-hak) Allah, maka Allah akan menjaganya dari berbagai
gangguan, itu berarti telah menyia-nyiakan dirinya sendiri. Allah sama sekali
tidak butuh padanya.”
Selain itu, Allah akan menjaga agama dan keimanannya. Allah akan menjaga agama dirinya dari pemikiran rancu yang bisa menyesatkan dan dari berbagai syahwat yang diharamkan.
Selain itu, Allah akan menjaga agama dan keimanannya. Allah akan menjaga agama dirinya dari pemikiran rancu yang bisa menyesatkan dan dari berbagai syahwat yang diharamkan.
Berlaku Jujur, Menuai Kebaikan
Dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud, ia menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika sesorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.
Dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud, ia menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika sesorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.
Terkhusus lagi, beliau
memerintahkan kejujuran ini pada pedagang karena memang kebiasaan para pedagang
adalah melakukan penipuan dan menempuh segala cara demi melariskan berang
dagangan.
Berlaku jujur juga akan menuai
berbagai keberkahan. Yang dimaksud keberkahan adalah tetapnya dan bertambahnya
kebaikan. Dari sahabat Hakim bin Hizam, Nabi SAW bersabda yang artinya, “Kedua
orang penjual dan pembali masing-masing memiliki hak pilih (khiyar) selama
keduanya belum berpisah. Bila keduanya berlaku jujur dan saling terus
terang,maka keduanya akan memperoleh keberkahan dalam transaksi tersebut.
Sebaliknya, bila mereka berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya akan
hilanglah keberkahan bagi mereka pada transaksi itu.”
Mudah Memaafkan, Menuai Kemuliaan
Rasulullah SAW bersabda, “Sedekah tidak mungkin mungurangi harta. Tidaklah seseorang suka memaafkan, melainkan ia akan semakin mulia. Tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ (rendah diri) karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.”
Rasulullah SAW bersabda, “Sedekah tidak mungkin mungurangi harta. Tidaklah seseorang suka memaafkan, melainkan ia akan semakin mulia. Tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ (rendah diri) karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.”
Seseorang yang selalu memaafkan
akan semakin mulia dan bertambah kemuliaannya. Ia juga akan mendapatkan balasan
dan kemuliaan di akhirat.
Menolong Sesama, Menuai
Pertolongan dari Allah
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa meringankan sebuah kesusahan (kesedihan) seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Barang siapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barang siapa menutupi aib seseorang, Allah pun akan menutupi ‘aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hambanya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.”
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa meringankan sebuah kesusahan (kesedihan) seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Barang siapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barang siapa menutupi aib seseorang, Allah pun akan menutupi ‘aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hambanya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.”
Diantara bentuk pertolongan
disini adalah seseorang memberikan kemudahan dalam masalah untung.ini biasa
dilakukan dengan dua cara. Pertama, mamberikan tenggang waktu pelunasan dari
tempo yang diberikan, ini hukumnya wajib. Karena Allah Ta’ala berfirman, “Dan
jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai
dia berkelapangan.” (QS. Al-Baqarah : 280). Kedua, dengan memutihkan hutang
tersebut, dan ini di anjurkan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Dan
menyedekahkan (sebagian atau semua hutang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu
mengetahui.” (QS. Al-baqarah : 280)
Berkebalikan dari sikap baik ini
adalah mengenakan riba pada saudaranya yang menunda hutang. Ini adalah berkebalikan
dari memberi kemudahan. Maka tentu saja orang yang memberi kesulitan pada
saudaranya akan menuai hasil yang sebaliknya.
Berbuat Curang, Menuai Musibah
Nabi SAW bersabda,”Dan tidaklah mereka berbuat curang ketika menakar dan menimbang melainkan mereka akan ditimpa kekeringan, mahalnya biaya hidup dan kezdaliman para penguasa.”
Nabi SAW bersabda,”Dan tidaklah mereka berbuat curang ketika menakar dan menimbang melainkan mereka akan ditimpa kekeringan, mahalnya biaya hidup dan kezdaliman para penguasa.”
Sebab curang dalam perniagaan
inilah sebab dibinasakannya kaum Madyan, umat Nabi Syu’aib AS. Allah Ta’ala
memerintahkan pada kaumnya Madyan, “Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu
termasuk orang-orang yang merugikan, dan timbanglah dengan timbangan yang
lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya. Dan janganlah kamu
merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan.” (QS. Asy_Syu’ara : 181-183)
Jadi ingatlah, setiap yang kita
tanam baik kebaikan maupun kejelekanpasti kita akan menuai hasilnya. Oleh
karenanya, bersemangatlah dalam menanam kebaikan dan janganlah pernah mau
menanam kejelekan.
Sumber : muslim.or.Id

Semoga Sobat hari ini lebih baik dari kemarin, jika ada yang ingin ditanyakan terkait program RZ Cilegon, silahkan isikan komentar dibawah ini
EmoticonEmoticon