![]() |
| www.rumahzakat.org |
Oleh: Ahmad Gozali
Banyak pertanyaan sejenis seperti
ini yang menandingkan pembayaran sedekah dengan pengeluaran yang lainnya.
Tentunya jawaban yang diberikan bisa sangat berbeda tergantung dalam konteks
apa pertanyaan ini diajukan.
Jika mengacu pada hukum syara’,
maka tentunya membayar hutang itu lebih utama karena wajib hukumnya. Sedangkan
bersedekah itu hukumnya sunnah sehingga prioritasnya bisa dikebelakangkan di
bawah kewajiban membayar hutang.
Tapi dalam konteks pengelolaan
penghasilan atau gaji setiap bulannya, dimana jumlah hutang yang dibayarkan
adalah “cicilan” yang sudah fixed ditagihkan sejumlah tertentu. Maka tidak ada
salahnya jika kita menghitung pembayaran zakat dan sedekah lebih dahulu sebelum
pembayaran hutang.
Kenapa? Alasan pertama, karena
hutang yang dibayarkan adalah dalam bentuk cicilan yang fixed. Yang jika
dibayarkan zakat terlebih dahulu maupun hutang terlebih dahulu sebetulnya tidak
akan terlalu banyak berpengaruh secara matematis.
Misalnya saja penghasilan 100%,
maka zakatnya adalah 2,5%, lalu memiliki cicilan hutang sebesar 30%. Pembayaran
zakat terlebih dahulu tidak akan membuatnya menjadi kehilangan kemampuan untuk
membayar hutang kan? Karena masih ada 67,5% lagi sisa penghasilan yang belum
dialokasikan.
Tapi kenapa zakat duluan…? Karena
dengan membayar zakat terlebih dahulu sebelum membayar yang lainnya, kita
melatih mental kaya dalam kepala kita. Dengan bersedekah (sedekah yang wajib
disebut dengan zakat) terlebih dahulu kita melatih diri kita dengan mentalnya
orang kaya, yaitu mental berkelimpahan. Tidak keberatan jika harus memberi pada
orang lain sebelum menikmati untuk diri sendiri. Tidak takut berkurang karena
member jika memiliki mental berkelimpahan.
Dan dengan berzakat menunjukkan
bahwa kita bersyukur dengan rezeki yang kita terima. Menjadikan ini sebagai
pembuktian bahwa kita menghargai karunia-Nya dengan menyampaikan amanat wajib
menyisihkan 2,5% untuk orang lain yang lebih memerlukan. Atau lebih dari itu
jika kita memiliki hati yang lebih lapang lagi.
Alasan kedua, hutang seperti apa sih dalam konteks rumah tangga jaman sekarang ini? Apakah hutang untuk bertahan hidup seperti untuk membeli makanan atau biaya berobat darurat sehingga jika tidak berhutang maka maka meninggal dunia?
Jika ya, maka wajar saja hutang
seperti ini adalah hutang darurat yang pembayarannya tentu lebih utama
dibanding pengeluaran lainnya. Bahkan pembayaran zakat menjadi gugur
kewajibannya jika masih memiliki hutang seperti ini. Karena jika terpaksa
berhutang untuk kebutuhan darurat seperti itu, artinya kita berada dalam
kondisi miskin.
Tapi sepertinya sebagian besar
hutang rumah tangga di zaman sekarang bukanlah hutang seperti itu. Hutang
terjadi karena pembelian rumah secara angsuran melalui bank, hutang kartu
kredit yang digunakan untuk membeli ini dan itu yang sekunder atau tersier.
Bahkan sebagian hutang adalah untuk cicilan HP, TV layar datar, dan sebagainya.
Apa masih pantas kita berhutang
seperti ini lalu mengatakan… karena masih banyak hutang, maka saya harus
membayar hutang terlebih dahulu bahkan tidak diwajibkan lagi membayar zakat
jika sebagian besar pengeluaran saya digunakan untuk membayar hutang tersebut.
Masih pantas…?
Saya rasa tidak. Karena sebagian
besar hutang yang ditumpuk itu adalah “memindahkan” biaya hidup di masa depan
untuk dinikmati sekarang, lalu dibayar bertahap setiap bulan. Jadi artinya,
yang disebut dengan pembayaran hutang ini adalah juga biaya hidup yang
dipindahkan jadwal pembayarannya.
Kalau untuk kesenangan di masa
depan berani dipindahkan di masa sekarang karena yakin bisa membayarnya di
kemudian hari, maka pantas sekali jika orang-orang seperti ini disebut sebagai
orang mampu, dan diwajibkan untuk membayar zakat jika penghasilannya sudah
melebihi nishab.
Nah, itulah sebabnya, dalam
konteks ini, prioritas pengeluarannya adalah bayar zakat dulu, baru kemudian
bayar hutang, saving, lalu shopping.
Setuju apa setuju….?
Sumber: takafulmulia.com

Semoga Sobat hari ini lebih baik dari kemarin, jika ada yang ingin ditanyakan terkait program RZ Cilegon, silahkan isikan komentar dibawah ini
EmoticonEmoticon