![]() |
| Ilustrasi malam lailatul qodr (google.co.id) |
Suatu ketika, Aisyah RA pernah
bertanya kepada Nabi SAW, ”Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu,
jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di
dalamnya?” Beliau menjawab, “Katakanlah (pintalah): Allahumma innaka ‘afuwwun
tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ ”Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang
menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Menarik redaksi pada doa di malam
lailatul qadar tersebut. Dalam doa itu, Allah disapa dengan ‘Afuwun. Bukan
Ghafur. Imam al-Ghazali, seperti dikutip M Quraish Shihab dalam Tafsir
al-Mishbah, membedakan keduanya. Al-’Afuw mengandung makna menghapus, mencabut
akar sesuatu, membinasakan, dan sebagainya.
Sedangkan al-Ghafur berarti
menutup, sesuatu yang menutup pada hakikatnya tetap wujud, hanya tidak
terlihat, sedangkan yang dihapus, hilang, kalaupun tersisa, paling bekasnya
saja. Orang yang mendapatkan maafnya Allah akan terhapus dosa-dosanya. Adakah
kebahagiaan yang lebih tinggi dalam hidup ini selain memperoleh ampunan dan
maaf Allah SWT?
Dalam kitab Bustanul Khatib
diceritakan, sufi kenamaan, al-Hasan Al-Bashri (wafat 110 H) didatangi
seseorang yang mengeluhkan paceklik dan kekeringan, maka beliau menasihati,
“Beristighfarlah.” Lalu, datang lagi orang lain mengadukan kemiskinannya,
beliau menasehati, “Beristighfarlah.” Kemudian datang lagi orang mengadukan
masalah sedikitnya anak, sang sufi berpesan, “Beristighfarlah.”
Salah satu muridnya bertanya,
“Mengapa istighfar menjadi solusi?” Hasan al-Bashri menjawab, “Tidakkah kamu
membaca firman Allah SWT dalam surah Nuh ayat 10-12: ‘Mohonlah ampun kepada
Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan
hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan
mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu
sungai-sungai’.”
Orang yang mendapat ampunan dan
maafnya Allah SWT juga akan terhindar dari siksa api neraka sehingga ia masuk
dalam surga. (QS Ali Imran [3]: 133). Bahkan Allah SWT mengurungkan azabnya
tatkala di suatu negeri masih terdapat orang yang beristighfar (QS al-Anfal
[8]: 33).
Dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara, umat Islam mesti memperbanyak istighfar agar Allah SWT tak
menurunkan azab yang sifatnya menyeluruh akibat kezaliman yang dilakukan
segelintir orang (QS al-Anfal [8]: 25).
Maka jadikanlah Ramadhan ini
sebagai bulan muhasabah, mengingat kembali banyaknya dosa yang telah kita
lakukan, sehingga mendorong kita untuk memohon ampunan Allah SWT.
Yahya bin Muadz berkata, “Siapa
saja beristighfar dengan lisan, tetapi hatinya masih terikat dengan maksiat,
masih berniat untuk kembali, serta mengulang dosa setelah bulan Ramadhan maka
puasanya ditolak. Dan pintu diterimanya amal menjadi tertutup di hadapan
wajahnya.”
Hal ini juga pernah diungkapkan
Ibn ‘Athaillah al-Sarkandi dalamBuhtaj al-Nufus, “Orang bermunajat mohon ampun
kepada Allah tetapi masih tenggelam dalam maksiat laksana seseorang yang sakit
lalu meminta obat ke dokter dan meminumnya, tetapi ia membiarkan ular menggigit
tubuhnya.”
Selagi masih di sepuluh terakhir
Ramadhan, mari kita tingkatkan kualitas ibadah kita dengan puasa, shalat malam,
tadabbur Alquran, sedekah, iktikaf, dan tentu perbanyak istighfar, dengan
harapan kita bertemu dengan malam lailatur qadar.
Jika saja kita gagal meraih
ampunan Allah, Rasullullah bersabda, “Sungguh sangat terhina dan rendah
seseorang yang datang kepadanya Ramadhan kemudian bulan tersebut berlalu
sebelum diampuni untuknya (dosa-dosanya).” (HR Tirmidzi).
Maka senantiasalah mengajukan
satu permintaan di setiap malam Ramadhan, “Allahumma innaka ‘afuwwun karim
tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’.” Aamiin.

Semoga Sobat hari ini lebih baik dari kemarin, jika ada yang ingin ditanyakan terkait program RZ Cilegon, silahkan isikan komentar dibawah ini
EmoticonEmoticon