![]() |
| www.rumahzakat.org |
Abu Jurayy Jabir bin Sulaim, ia
berkata, “Aku melihat seorang laki-laki yang perkataannya ditaati orang. Setiap
kali ia berkata, pasti diikuti oleh mereka. Aku bertanya, “Siapakah orang ini?”
Mereka menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Aku berkata,
“‘Alaikas salaam (bagimu keselamatan), wahai Rasulullah (ia mengulangnya dua kali).”
Beliau lalu berkata, “Janganlah engkau mengucapkan ‘alaikas salaam (bagimu
keselamatan) karena salam seperti itu adalah penghormatan kepada orang mati.
Yang baik diucapkan adalah assalamu ‘alaik (semoga keselamatan bagimu.”
Abu Jurayy bertanya, “Apakah
engkau adalah utusan Allah?” Beliau menjawab, “Aku adalah utusan Allah yang
apabila engkau ditimpa malapetaka, lalu engkau berdoa kepada Allah, maka Dia
akan menghilangkan kesulitan darimu. Apabila engkau ditimpa kekeringan selama
satu tahun, lantas engkau berdoa kepada Allah, maka Dia akan menumbuhkan
tumbuh-tumbuhan untukmu. Dan apabila engkau berada di suatu tempat yang gersang
lalu untamu hilang, kemudian engkau berdoa kepada Allah, maka Dia akan
mengembalikan unta tersebut untukmu.”
Abu Jurayy berkata lagi kepada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah wasiat kepadaku.”
Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberi wasiat, “Janganlah engkau menghina seorang pun.” Abu Jurayy berkata, “Aku pun tidak pernah menghina seorang pun setelah itu, baik kepada orang yang merdeka, seorang budak, seekor unta, maupun seekor domba.”
Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberi wasiat, “Janganlah engkau menghina seorang pun.” Abu Jurayy berkata, “Aku pun tidak pernah menghina seorang pun setelah itu, baik kepada orang yang merdeka, seorang budak, seekor unta, maupun seekor domba.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam melanjutkan sabdanya, “Jika ada seseorang yang menghinamu dan mempermalukanmu dengan sesuatu yang ia
ketahui ada padamu, maka janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang
engkau ketahui ada padanya. Akibat buruk biarlah ia yang menanggungnya.” (HR.
Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa
sanad hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini
shahih).
Di antara wasiat Rasul
shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas adalah janganlah menghina
orang lain. Setelah Rasul menyampaikan wasiat ini, Jabir bin Sulaim pun tidak
pernah menghina seorang pun sampai pun pada seorang budak dan seekor hewan.
Dalam surat Al Hujurat, Allah
Ta’ala memberikan kita petunjuk dalam berakhlak yang baik,
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (QS. Al Hujurat: 11)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (QS. Al Hujurat: 11)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata
bahwa ayat di atas berisi larangan melecehkan dan meremehkan orang lain. Dan
sifat melecehkan dan meremehkan termasuk dalam kategori sombong sebagaimana
sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sombong adalah sikap menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim
no. 91).
Yang dimaksud di sini adalah
meremehkan dan menganggapnya kerdil. Meremehkan orang lain adalah suatu yang
diharamkan karena bisa jadi yang diremehkan lebih mulia di sisi Allah seperti
yang disebutkan dalam ayat di atas.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 713).
Ingatlah orang jadi mulia di sisi
Allah dengan ilmu dan takwa. Jangan sampai orang lain diremehkan dan dipandang
hina. Allah Ta’ala berfirman, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al Mujadilah:
11)
Seorang mantan budak pun bisa
jadi mulia dari yang lain lantaran ilmu. Coba perhatikan kisah seorang bekas
budak berikut ini.
Dari Nafi’ bin ‘Abdil Harits, ia pernah bertemu dengan ‘Umar di ‘Usfaan. ‘Umar memerintahkan Nafi’ untuk mengurus Makkah. Umar pun bertanya, “Siapakah yang mengurus penduduk Al Wadi?” “Ibnu Abza”, jawab Nafi’. Umar balik bertanya, “Siapakah Ibnu Abza?” “Ia adalah salah seorang bekas budak dari budak-budak kami”, jawab Nafi’. Umar pun berkata, “Kenapa bisa kalian menyuruh bekas budak untuk mengurus seperti itu?” Nafi’ menjawab, “Ia adalah seorang yang paham Kitabullah. Ia pun paham ilmu faroidh (hukum waris).” ‘Umar pun berkata bahwa sesungguhnya Nabi kalian -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah bersabda, “Sesungguhnya suatu kaum bisa dimuliakan oleh Allah lantaran kitab ini, sebaliknya bisa dihinakan pula karenanya.” (HR. Muslim no. 817).
Dari Nafi’ bin ‘Abdil Harits, ia pernah bertemu dengan ‘Umar di ‘Usfaan. ‘Umar memerintahkan Nafi’ untuk mengurus Makkah. Umar pun bertanya, “Siapakah yang mengurus penduduk Al Wadi?” “Ibnu Abza”, jawab Nafi’. Umar balik bertanya, “Siapakah Ibnu Abza?” “Ia adalah salah seorang bekas budak dari budak-budak kami”, jawab Nafi’. Umar pun berkata, “Kenapa bisa kalian menyuruh bekas budak untuk mengurus seperti itu?” Nafi’ menjawab, “Ia adalah seorang yang paham Kitabullah. Ia pun paham ilmu faroidh (hukum waris).” ‘Umar pun berkata bahwa sesungguhnya Nabi kalian -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah bersabda, “Sesungguhnya suatu kaum bisa dimuliakan oleh Allah lantaran kitab ini, sebaliknya bisa dihinakan pula karenanya.” (HR. Muslim no. 817).
Sumber: https://rumaysho.com

Semoga Sobat hari ini lebih baik dari kemarin, jika ada yang ingin ditanyakan terkait program RZ Cilegon, silahkan isikan komentar dibawah ini
EmoticonEmoticon