Salah satu tujuan utama
dalam beramal adalah mendapat pahala dari Allah ta'alla, lantas
bagaimana jika amalan yang sangat diharapkan sebagai tabungan diakherat
ternyata 'kopong' alias sia-sia dan tak tertulis sabagai amalan?
Bagaimana mungkin amalan akan diterima tatkala kita tidak mengetahui
cara agar amalan bisa diterima dan mendapat ridho dari Allah? Apalagi
jika barometer kesuksesan dalam beramal tatkala mendapat pujian belaka.
Tak dapat diragukan lagi walaupun lisan ini mengatakan ‘Aku ikhlas’
namun ikhlas tak semudah hanya ucapan saja dan malahan perlu dicek lagi
arti keikhlasannya. Baiklah marilah kita berusaha mengetahui
kaidah-kaidah dalam beramal agar amalan kita tidak sia-sia. Dan ingatlah
tak ada satu detik waktupun menjadi sia-sia dan berakhir penyesalan
jika segera diikuti dengan taubat dan membenahi cara beramal dengan
benar.
Untuk mewujudkan keikhlasan dalam beramal ada beberapa cara :
1. Do’a. Berdo’alah agar setiap amalan ikhlas karena Allah.
Sebagai manusia tak lepas dari riya’, pamer dan suka dipuji. Khalifah
besar seperti Umar Ibnul Khattab radhiyallahu’anhum yang merupakan
shahabat Rasul dan sudah dijanjikan surga kepadanya pun masih saja
berdoa agar ikhlas dalam beramal. “Ya Allah jadikanlah amalku shalih
semuanya dan jadikanlah ia ikhlas karena-Mu dan janganlah Engkau jadikan
untuk seseorang dari amal itu sedikitpun.”
2. Menyembunyikan amal.
Sembunyikan amal seperti menyembunyikan keburukan, seperti perkataan
Bisyr Ibnul Harits berkata, “Jangan kau beramal supaya dikenang.
Sembunyikanlah kebaikanmu seperti kamu menyembunyikan kejelekanmu.”
3. Memperhatikan amalan mereka yang lebih baik.
Bacalah biografi-biografi dari para shahabat, tabi’in serta orang-orang
terdahulu, sebagai suri teladan dalam beramal. Karena hidup di jaman
sekarang ini terkadang dari penampakan terlihat bagus dan banyak yang
meneladani, namun ternyata amalan-amalan bid’ah yang dilakukannya.
Na’udzubillahi min dzalik
4. Memandang remeh apa yang telah diamalkan.
Terkadang manusia terjebak dengan godaan setan, yaitu melakukan sedikit
amal dan merasa kagum dengan sedikit amal tersebut. Dan akibatnya bisa
fatal, karena bisa jadi satu amal kebaikan bisa memasukkan manusia ke
neraka. Seperti perkataan Sa’d bin Jubair, “Ada seseorang yang masuk
surga karena sebuah kemaksiatan yang dilakukannya dan ada yang masuk
neraka karena sebuah kebaikan yang dilakukannya.
Seseorang yang
melakukan maksiat setelah itu ia takut dan cemas terhadap siksa Allah
karena dosanya, kemudian menghadap Allah dan Allah mengampuninya karena
rasa takutnya kepada-Nya dan seseorang berbuat suatu kebaikan lalu ia
senantiasa mengaguminya kemudian ia pun menghadap Allah dengan sikapnya
itu maka Allah pun mencampakkannya ke dalam neraka.
5. Khawatir kalau-kalau amalnya tidak diterima.
Poin ini berkaitan dengan poin sebelumnya, bahwa lebih baik menganggap
remeh amal yang telah diperbuat agar dapat menjaga hati ini dari rasa
kagum terhadap amal yang telah diperbuat.
6. Tidak terpengaruh dengan ucapan orang.
Orang yang mendapat taufik adalah orang yang tidak terpengaruh dengan
pujian orang. Ibnul Jauzy (Shaidul Khaathir) berkata, “Bersikap acuh
terhadap orang lain serta menghapus pengaruh dari hati mereka dengan
tetap beramal shaleh disertai niat yang ikhlas dengan berusaha untuk
menutup-nutupinya adalah sebab utama yang mengangkat kedudukan
orang-orang yang mulia.”
7. Senantiasa ingat bahwa surga dan neraka bukan milik manusia.
Manusia tidak dapat memberikan manfaat maupun menimpakan bencana kepada
manusia, begitu pula manusia bukanlah pemilik surga maupun neraka.
Manusia tidak bisa memasukkan manusia lain ke surga dan mengeluarkan
manusia lain keluar dari neraka,lantas untuk apalagi beramal demi
manusia, agar dipuji atasan, agar disanjung mertua, atau agar datang
simpati dari manusia lain?
8. Ingatlah bahwa Sobat akan berada dalam kubur sendirian.
Jiwa akan menjadi lebih baik tatkala ingat tempat ia kembali. Bahwa ia
akan beralaskan tanah dikuburnya sendiri, tak ada yang menemani, ingat
bahwa manusia tidak dapat meringankan siksa kuburnya, seluruh urusannya
berada ditangan Allah. Ketika itulah ia yakin bahwa tidak ada yang dapat
menyelamatkannya kecuali dengan mengikhlaskan seluruh amalnya hanya
kepada Allah Yang Maha Pencipta semata.
Semoga kita senantiasa
diberikan kemudahan oleh Allah untuk mengamalkan ilmu dengan disertai
keikhlasan dalam mengamalkannya tersebut. Ingatlah bahwa hanya Allah
yang dapat membolak-balikkan hati hamba-Nya.
Sumber: muslimah.or.id
www.rumahzakat.org

Semoga Sobat hari ini lebih baik dari kemarin, jika ada yang ingin ditanyakan terkait program RZ Cilegon, silahkan isikan komentar dibawah ini
EmoticonEmoticon