![]() |
| www.rumahzakat.org |
“Hai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa kepada-Nya dan janganlah
sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam.” (Ali Imran: 102)
“Hai sekalian manusia,
bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan
daripadanya Allah menciptakan istrinya, dan daripada keduanya Allah
mengembangbiakkan lelaki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada
Allah yang denan (menggunakan) nama-Nya kami saling meminta satu sama lain, dan
(peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan
mengawasi kamu.” (An-Nisa: 1)
“Wahai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya
Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu.
Dan, barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya dia telah
mendapatkan kemenangan yang besar.”
Begitulah perintah Allah kepada
kita agar kita bertakwa. Namun, iman di dalam hati kita bukanlah sesuatu yang
statis. Iman kita begitu dinamis. Bak gelombang air laut yang kadang pasang
naik dan kadang pasang surut.
Ketika kondisi iman kita lemah
dan kondisi lemah itu kita masih ada dalam kebaikan, kita beruntung. Namun,
bila ketika kondisi iman kita lemah dan kondisi lemah itu membuat kita ada di
luar koridor ajaran Rasulullah saw., kita celaka. Rasulullah saw. bersabda,
“Engkau mempunyai amal yang bersemangat, dan setiap semangat mempunyai kelemahan.
Barangsiapa yang kelemahannya tertuju pada sunnahku, maka dia telah beruntung.
Dan, siapa yang kelemahannya tertuju kepada selain itu, maka dia telah binasa.”
(Ahmad)
Begitulah kondisi hati kita.
Sesuai dengan namanya, hati –dalam bahasa Arab qalban—selalu berubah-ubah
(at-taqallub) dengan cepat. Rasulullah saw. berkata, “Dinamakan hati karena
perubahannya. Sesungguhnya hati itu ialah laksana bulu yang menempel di pangkal
pohon yang diubah oleh hembusan angin secara terbalik.” (Ahmad dalam Shahihul
Jami’ no. 2365)
Karena itu Rasulullah saw.
mengajarkan kepada kita sebuah doa agar Allah saw. menetapkan hati kita dalam
ketaatan. “Ya Allah Yang membolak-balikan hati-hati manusia, balikanlah hati
kami untuk taat kepada-Mu.” (Muslim no. 2654)
Hati kita akan kembali pada
kondisi ketaatan kepada Allah swt. jika kita senantiasa memperbaharui keimanan
kita. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya iman itu dijadikan di dalam diri
salah seorang di antara kamu sekalian sebagaimana pakaian yang dijadikan, maka memohonlah
kepada Allah agar Dia memperbaharui iman di dalam hatimu.” (Al-Hakim di
Al-Mustadrak, 1/4; Al-Silsilah Ash-Shahihain no. 1585; Thabrany di Al-Kabir)
Bagaimana cara memperbaharui
iman? Ada 20 sarana yang bisa kita lakukan, yaitu sebagai berikut.
1. Perbanyaklah menyimak
ayat-ayat Al-Quran
Al-Qur’an diturunkan Allah sebagai cahaya dan petunjuk, juga sebagai obat bagi hati manusia. “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Isra’: 82).
Kata Ibnu Qayyim, yang seharusnya
dilakukan oleh seorang muslim untuk menyembuhkan hatinya melalui Al-Quran,
“Caranya ada dua macam: pertama, engkau harus mengalihkan hatimu dari dunia,
lalu engkau harus menempatkannya di akhirat. Kedua, sesudah itu engkau harus
menghadapkan semua hatimu kepada pengertian-pengertian Al-Qur’an, memikirkan
dan memahami apa yang dimaksud dan mengapa ia diturunkan. Engkau harus
mengamati semua ayat-ayat-Nya. Jika suatu ayat diturunkan untuk mengobati hati,
maka dengan izin Allah hati itu pun akan sembuh.”
2. Rasakan keagungan Allah
seperti yang digambarkan Al-Qur’an dan Sunnah
Al-Qur’an dan Sunnah banyak sekali mengungkap keagungan Allah swt. Seorang muslim yang ketika dihadapkan dengan keagungan Allah, hatinya akan bergetar dan jiwanya akan tunduk. Kekhusukan akan hadir mengisi relung-relung hatinya.
Al-Qur’an dan Sunnah banyak sekali mengungkap keagungan Allah swt. Seorang muslim yang ketika dihadapkan dengan keagungan Allah, hatinya akan bergetar dan jiwanya akan tunduk. Kekhusukan akan hadir mengisi relung-relung hatinya.
Resapi betapa agungnya Allah yang
Maha Mendengar, Maha Mengetahui, yang memiliki nama-nama yang baik (asma’ul
husna). Dialah Al-‘Azhim, Al-Muhaimin, Al-Jabbar, Al-Mutakabbir, Al-Qawiyyu,
Al-Qahhar, Al-Kabiir, Al-Muth’ali. Dia yang menciptakan segala sesuatu dan
hanya kepada-Nya lah kita kembali.
Jangan sampai kita termasuk orang
yang disebut ayat ini, “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan
yang semestinya, padahal bumi dan seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari
kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.” (Az-Zumar: 67)
3. Carilah ilmu syar’i
Sebab, Al-Qur’an berkata, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya ialah orang-orang yang berilmu.” (Fathir: 28). Karenanya, dalamilah ilmu-ilmu yang mengantarkan kita pada rasa takut kepada Allah.
Sebab, Al-Qur’an berkata, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya ialah orang-orang yang berilmu.” (Fathir: 28). Karenanya, dalamilah ilmu-ilmu yang mengantarkan kita pada rasa takut kepada Allah.
Allah berfirman, “Adakah sama
orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”
(Az-Zumar: 9). Orang yang tahu tentang hakikat penciptaan manusia, tahu tentang
syariat yang diturunkan Allah sebagai tata cara hidup manusia, dan tahu ke mana
tujuan akhir hidup manusia, tentu akan lebih khusyuk hatinya dalam ibadah dan
kuat imannya dalam aneka gelombang ujian ketimbang orang yang jahil.
Orang yang tahu tentang apa yang
halal dan haram, tentu lebih bisa menjaga diri daripada orang yang tidak tahu.
Orang yang tahu bagaiman dahsyatnya siksa neraka, tentu akan lebih khusyuk.
Orang yang tidak tahu bagaimana nikmatnya surga, tentu tidak akan pernah punya
rasa rindu untuk meraihnya.
4. Mengikutilah halaqah dzikir
Suatu hari Abu Bakar mengunjungi Hanzhalah. “Bagaimana keadaanmu, wahai Hanzhalah?” Hanzhalah menjawab, “Hanzhalah telah berbuat munafik.” Abu Bakar menanyakan apa sebabnya. Kata Hanzhalah, “Jika kami berada di sisi Rasulullah saw., beliau mengingatkan kami tentang neraka dan surga yang seakan-akan kami bisa melihat dengan mata kepala sendiri. Lalu setelah kami pergi dari sisi Rasulullah saw. kami pun disibukkan oleh urusan istri, anak-anak, dankehidupan, lalu kami pun banyak lupa.”
Suatu hari Abu Bakar mengunjungi Hanzhalah. “Bagaimana keadaanmu, wahai Hanzhalah?” Hanzhalah menjawab, “Hanzhalah telah berbuat munafik.” Abu Bakar menanyakan apa sebabnya. Kata Hanzhalah, “Jika kami berada di sisi Rasulullah saw., beliau mengingatkan kami tentang neraka dan surga yang seakan-akan kami bisa melihat dengan mata kepala sendiri. Lalu setelah kami pergi dari sisi Rasulullah saw. kami pun disibukkan oleh urusan istri, anak-anak, dankehidupan, lalu kami pun banyak lupa.”
Lantas keduanya mengadukan hal
itu kepada Rasulullah saw. Kata Rasulullah, “Demi jiwaku yang ada di dalam
genggaman-Nya, andaikata kamu sekalian tetap seperti keadaanmu di sisiku dan di
dalam dzikir, tentu para malaikat akan menyalami kamu di atas kasurmu dan
tatkala kamu dalam perjalanan. Tetapi, wahai Hanzhalah, sa’atah, sa’atan,
sa’atan.” (Shahih Muslim no. 2750)
Begitulah majelis dzikir. Bisa
menambah bobot iman kita. Makanya para sahabat sangat bersemangat mengadakan
pertemuan halaqah dzikir. “Duduklah besama kami untuk mengimani hari kiamat,”
begitu ajak Muadz bin Jabal. Di halaqah itu, kita bisa melaksanakan hal-hal
yang diwajibkan Allah kepada kita, membaca Al-Qur’an, membaca hadits, atau
mengkaji ilmu pengetahuan lainnya.
5. Perbanyaklah amal shalih
Suatu ketika Rasulullah saw. bertanya, “Siapa di antara kalian yang berpuasa di hari ini?” Abu Bakar menjawab, “Saya.” Lalu Rasulullah saw. bertanya lagi, “Siapa di antara kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?” Abu Bakar menjawab, “Saya.” Lalu Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah amal-amal itu menyatu dalam diri seseorang malainkan dia akan masuk surga.” (Muslim)
Suatu ketika Rasulullah saw. bertanya, “Siapa di antara kalian yang berpuasa di hari ini?” Abu Bakar menjawab, “Saya.” Lalu Rasulullah saw. bertanya lagi, “Siapa di antara kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?” Abu Bakar menjawab, “Saya.” Lalu Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah amal-amal itu menyatu dalam diri seseorang malainkan dia akan masuk surga.” (Muslim)
Begitulah seorang mukmin yang
shaddiq (sejati), begitu antusias menggunakan setiap kesempatan untuk
memperbanyak amal shalih. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan surga.
“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabb-mu dan surga
yang luasnya seluas langit dan bumi.” (Al-Hadid: 21)
Begitulah mereka. Sehingga
keadaan mereka seperti yang digambarkan Allah swt., “Mereka sedikit sekali
tidur pada waktu malam, dan pada akhir-akhir malam mereka memohon ampunan
(kepada Allah). Dan, pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang
meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (Adz-Dzariyat: 17-19)
Banyak beramal shalih, akan
menguatkan iman kita. Jika kita kontinu dengan amal-amal shalih, Allah akan
mencintai kita. Dalam sebuah hadits qudsy, Rasulullah saw. menerangkan bahwa
Allah berfirman, “Hamba-Ku senantiasa bertaqarrub kepada-Ku dengan mengerjakan
nafilah sehingga Aku mencintainya.” (Shahih Bukhari no. 6137)
6. Lakukan berbagai macam ibadah
Ibadah memiliki banyak ragamnya. Ada ibadah fisik seperti puasa, ibadah materi seperti zakat, ibadah lisan seperti doa dan dzikir. Ada juga ibadah yang yang memadukan semuanya seperti haji. Semua ragam ibadah itu sangat bermanfaat untuk menyembuhkan lemah iman kita.
Ibadah memiliki banyak ragamnya. Ada ibadah fisik seperti puasa, ibadah materi seperti zakat, ibadah lisan seperti doa dan dzikir. Ada juga ibadah yang yang memadukan semuanya seperti haji. Semua ragam ibadah itu sangat bermanfaat untuk menyembuhkan lemah iman kita.
Puasa membuat kita khusyu’ dan
mempertebal rasa muraqabatullah (merasa diawasi Allah). Shalat rawatib dapat
menyempurnakan amal-amal wajib kita kurang sempurna kualitasnya. Berinfak
mengikis sifat bakhil dan penyakit hubbud-dunya. Tahajjud menambah kekuatan.
Banyak melakukan berbagai macam
ibadah bukan hanya membuat baju iman kita makin baru dan cemerlang, tapi juga
menyediakan bagi kita begitu banyak pintu untuk masuk surga. Rasulullah saw.
bersabda, “Barangsiapa yang menafkahi dua istri di jalan Allah, maka dia akan
dipanggil dari pintu-pintu surga: ‘Wahai hamba Allah, ini adalah baik.’ Lalu
barangsiapa yang menjadi orang yang banyak mendirikan shalat, maka dia
dipanggil dari pintu shalat. Barangsiapa menjadi orang yang banyak berjihad,
maka dia dipanggil dari pintu jihad. Barangsiapa menjadi orang yang banyak
melakukan puasa, maka dia dipanggil dari pintu ar-rayyan. Barangsiapa menjadi
orang yang banyak mengeluarkan sedekah, maka dia dipanggil dari pintu sedekah.”
(Bukhari no. 1798)
7. Hadirkan perasaan takut mati
dalam keadaan su’ul khatimah
Rasa takut su’ul khatimah akan mendorong kita untuk taat dan senantiasa menjaga iman kita. Penyebab su’ul khatimah adalah lemahnya iman menenggelamkan diri kita ke dalam jurang kedurhakaan. Sehingga, ketika nyawa kita dicabut oleh malaikat Izrail, lidah kita tidak mampu mengucapkan kalimat laa ilaha illallah di hembusan nafas terakhir.
Rasa takut su’ul khatimah akan mendorong kita untuk taat dan senantiasa menjaga iman kita. Penyebab su’ul khatimah adalah lemahnya iman menenggelamkan diri kita ke dalam jurang kedurhakaan. Sehingga, ketika nyawa kita dicabut oleh malaikat Izrail, lidah kita tidak mampu mengucapkan kalimat laa ilaha illallah di hembusan nafas terakhir.
8. Banyak-banyaklah ingat mati
Rasulullah saw. bersabda, “Dulu aku melarangmu menziarahi kubur, ketahuilah sekarang ziarahilah kubur karena hal itu bisa melunakan hati, membuat mata menangism mengingatkan hari akhirat, dan janganlah kamu mengucapkan kata-kata yang kotor.” (Shahihul Jami’ no. 4584)
Rasulullah saw. bersabda, “Dulu aku melarangmu menziarahi kubur, ketahuilah sekarang ziarahilah kubur karena hal itu bisa melunakan hati, membuat mata menangism mengingatkan hari akhirat, dan janganlah kamu mengucapkan kata-kata yang kotor.” (Shahihul Jami’ no. 4584)
Rasulullah saw. juga bersabda,
“Banyak-banyaklah mengingat penebas kelezatan-kelezatan, yakni kematian.”
(Tirmidzi no. 230)
Mengingat-ingat mati bisa mendorong kita untuk menghindari diri dari berbuat durhaka kepada Allah; dan dapat melunakkan hati kita yang keras. Karena itu Rasulullah menganjurkan kepada kita, “Kunjungilah orang sakit dan iringilah jenazah, niscaya akan mengingatkanmu terhadap hari akhirat.” (Shahihul Jami’ no. 4109)
Melihat orang sakit yang sedang
sakaratul maut sangat memberi bekas. Saat berziarah kubur, bayangkan kondisi
keadaan orang yang sudah mati. Tubuhnya rusak membusuk. Ulat memakan daging,
isi perut, lidah, dan wajah. Tulang-tulang hancur.
Bayangan seperti itu jika
membekas di dalam hati, akan membuat kita menyegerakan taubat, membuat hati
kita puas dengan apa yang kita miliki, dan tambah rajin beribadah.
9. Mengingat-ingat dahsyatnya
keadaan di hari akhirat
Ada beberapa surat yang menceritakan kedahsyatan hari kiamat. Misalnya, surah Qaf, Al-Waqi’ah, Al-Qiyamah, Al-Mursalat, An-Naba, Al-Muththaffifin, dan At-Takwir. Begitu juga hadits-hadits Rasulullah saw.
Ada beberapa surat yang menceritakan kedahsyatan hari kiamat. Misalnya, surah Qaf, Al-Waqi’ah, Al-Qiyamah, Al-Mursalat, An-Naba, Al-Muththaffifin, dan At-Takwir. Begitu juga hadits-hadits Rasulullah saw.
Dengan membacanya, mata hati kita
akan terbuka. Seakan-akan kita menyaksikan semua itu dan hadir di pemandangan
yang dahsyat itu. Semua pengetahuan kita tentang kejadian hari kiamat, hari
kebangkitan, berkumpul di mahsyar, tentang syafa’at Rasulullah saw., hisab,
pahala, qishas, timbangan, jembatan, tempat tinggal yang kekal di surga atau
neraka; semua itu menambah tebal iman kita.
10. Berinteraksi dengan ayat-ayat
yang berkaitan dengan fenomena alam
Aisyah pernah berkata, “Wahai Rasulullah, aku melihat orang-orang jika mereka melihat awan, maka mereka gembira karena berharap turun hujan. Namun aku melihat engkau jika engkau melihat awan, aku tahu ketidaksukaan di wajahmu.” Rasulullah saw. menjawab, “Wahai Aisyah, aku tidak merasa aman jika di situ ada adzab. Sebab ada suatu kaum yang pernah diadzab dikarenakan angin, dan ada suatu kaum yang melihat adzab seraya berkata, ‘Ini adalah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami’.” (Muslim no. 899)
Aisyah pernah berkata, “Wahai Rasulullah, aku melihat orang-orang jika mereka melihat awan, maka mereka gembira karena berharap turun hujan. Namun aku melihat engkau jika engkau melihat awan, aku tahu ketidaksukaan di wajahmu.” Rasulullah saw. menjawab, “Wahai Aisyah, aku tidak merasa aman jika di situ ada adzab. Sebab ada suatu kaum yang pernah diadzab dikarenakan angin, dan ada suatu kaum yang melihat adzab seraya berkata, ‘Ini adalah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami’.” (Muslim no. 899)
Begitulah Rasulullah saw.
berinteraksi dengan fenomena alam. Bahkan, jika melihat gerhana, terlihat raut
takut di wajah beliau. Kata Abu Musa, “Matahari pernah gerhana, lalu Rasulullah
saw. berdiri dalam keadaan ketakutan. Beliau takut karena gerhana itu merupakan
tanda kiamat.”
11. Berdzikirlah yang banyak
Melalaikan dzikirulah adalah kematian hati. Tubuh kita adalah kuburan sebelum kita terbujur di kubur. Ruh kita terpenjara. Tidak bisa kembali. Karena itu, orang yang ingin mengobati imannya yang lemah, harus memperbanyak dzikirullah. “Dan ingatlah Rabb-mu jika kamu lupa.” (Al-Kahfi: 24) “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lha hati menjadi tentram.” (Ar-Ra’d: 28)
Melalaikan dzikirulah adalah kematian hati. Tubuh kita adalah kuburan sebelum kita terbujur di kubur. Ruh kita terpenjara. Tidak bisa kembali. Karena itu, orang yang ingin mengobati imannya yang lemah, harus memperbanyak dzikirullah. “Dan ingatlah Rabb-mu jika kamu lupa.” (Al-Kahfi: 24) “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lha hati menjadi tentram.” (Ar-Ra’d: 28)
Ibnu Qayim berkata, “Di dalam
hati terdapat kekerasan yang tidak bisa mencair kecuali dengan dzikrullah. Maka
seseorang harus mengobati kekerasan hatinya dengan dzikrullah.”
12. Perbanyaklah munajat kepada
Allah dan pasrah kepada-Nya
Seseorang selagi banyak pasrah dan tunduk, niscaya akan lebih dekat dengan Allah. Sabda Rasulullah saw., “Saat seseorang paling dekat dengan Rabb-nya ialah ketika ia dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah doa.” (Muslim no. 428)
Seseorang selagi banyak pasrah dan tunduk, niscaya akan lebih dekat dengan Allah. Sabda Rasulullah saw., “Saat seseorang paling dekat dengan Rabb-nya ialah ketika ia dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah doa.” (Muslim no. 428)
Seseorang selagi mau bermunajat
kepada Allah dengan ucapan yang mencerminkan ketundukan dan kepasrahan, tentu
imannya semakin kuat di hatinya. Semakin menampakan kehinaan dan kerendahan diri
kepada Allah, semakin kuat iman kita. Semakin banyak berharap dan meminta
kepada Allah, semakin kuat iman kita kepada Allah swt.
13. Tinggalkan angan-angan yang
muluk-muluk
Ini penting untuk meningkatkan iman. Sebab, hakikat dunia hanya sesaat saja. Banyak berangan-angan hanyalah memenjara diri dan memupuk perasaan hubbud-dunya. Padahal, hidup di dunia hanyalah sesaat saja.
Ini penting untuk meningkatkan iman. Sebab, hakikat dunia hanya sesaat saja. Banyak berangan-angan hanyalah memenjara diri dan memupuk perasaan hubbud-dunya. Padahal, hidup di dunia hanyalah sesaat saja.
Allah swt. berfirman, “Maka
bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup
bertahun-tahun, kemudian datang kepada mereka adzab yang telah dijanjikan
kepada mereka, niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu
menikmatinya.” (Asy-Syu’ara: 205-207)
“Seakan-akan mereka tidak pernah
diam (di dunia) hanya sesaat saja pada siang hari.” (Yunus: 45)
14. Memikirkan kehinaan dunia
Hati seseorang tergantung pada isi kepalanya. Apa yang dipikirkannya, itulah orientasi hidupnya. Jika di benaknya dunia adalah segala-galanya, maka hidupnya akan diarahkan untuk memperolehnya. Cinta dunia sebangun dengan takut mati. Dan kata Allah swt., “Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (Ali Imran)
Hati seseorang tergantung pada isi kepalanya. Apa yang dipikirkannya, itulah orientasi hidupnya. Jika di benaknya dunia adalah segala-galanya, maka hidupnya akan diarahkan untuk memperolehnya. Cinta dunia sebangun dengan takut mati. Dan kata Allah swt., “Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (Ali Imran)
Karena itu pikirkanlah bawa dunia
itu hina. Kata Rasulullah saw., “Sesungguhnya makanan anak keturunan Adam itu
bisa dijadikan perumpamaan bagi dunia. Maka lihatlah apa yang keluar dari diri
anak keturunan Adam, dan sesungguhnya rempah-rempah serta lemaknya sudah bisa
diketahui akan menjadi apakah ia.” (Thabrani)
Dengan memikirkan bahwa dunia
hanya seperti itu, pikiran kita akan mencari orientasi ke hal yang lebih
tinggi: surga dan segala kenikmatan yang ada di dalamnya.
15. Mengagungkan hal-hal yang
terhormat di sisi Allah
“Barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu dari ketakwaan hati.” (Al-Hajj: 32) “Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabb-nya.” (Al-Hajj: 30)
“Barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu dari ketakwaan hati.” (Al-Hajj: 32) “Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabb-nya.” (Al-Hajj: 30)
Hurumatullah adalah hak-hak Allah yang ada di diri manusia, tempat, atau waktu
tertentu. Yang termasuk hurumatullah, misalnya, lelaki pilihan Muhammad bin
Abdullah, Rasulullah saw.; tempat-tempat suci (Masjid Haram, Masjid Nabawi,
Al-Aqha), dan waktu-waktu tertentu seperti bulan-bulan haram.
Yang juga termasuk hurumatullah
adalah tidak menyepelekan dosa-dosa kecil. Sebab, banyak manusia binasa karena
mereka menganggap ringan dosa-dosa kecil. Kata Rasulullah saw., “Jauhilah
dosa-dosa kecil, karena dosa-dosa kecil itu bisa berhimpun pada diri seseornag
hingga ia bisa membinasakan dirinya.”
16. Menguatkan sikap al-wala’
wal-bara’
Al-wala’ adalah saling tolong menolong dan pemberian loyalitas kepada sesama muslim. Sedangkan wal-bara adalah berlepas diri dan rasa memusuhi kekafiran. Jika terbalik, kita benci kepada muslim dan amat bergantung pada musuh-musuh Allah, tentu keadaan ini petanda iman kita sangat lemah.
Al-wala’ adalah saling tolong menolong dan pemberian loyalitas kepada sesama muslim. Sedangkan wal-bara adalah berlepas diri dan rasa memusuhi kekafiran. Jika terbalik, kita benci kepada muslim dan amat bergantung pada musuh-musuh Allah, tentu keadaan ini petanda iman kita sangat lemah.
Memurnikan loyalitas hanya kepada
Alah, Rasul, dan orang-orang beriman adalah hal yang bisa menghidupkan iman di
dalam hati kita.
17. Bersikap tawadhu
Rasulullah saw. bersabda, “Merendahkan diri termasuk bagian dari iman.” (Ibnu Majah no. 4118)
Rasulullah saw. bersabda, “Merendahkan diri termasuk bagian dari iman.” (Ibnu Majah no. 4118)
Rasulullah juga berkata,
“Barangsiapa menanggalkan pakaian karena merendahkan diri kepada Allah padahal
dia mampu mengenakannya, maka Allah akan memanggilnya pada hati kiamat bersama
para pemimpin makhluk, sehingga dia diberi kebebasan memilih di antara
pakaian-pakaian iman mana yang dikehendaki untuk dikenakannya.” (Tirmidzi no.
2481)
Maka tak heran jika baju yang
dikenakan Abdurrahman bin Auf –sahabat yang kaya—tidak beda dengan yang
dikenakan para budak yang dimilikinya.
18. Perbanyak amalan hati
Hati akan hidup jika ada rasa mencintai Allah, takut kepada-Nya, berharap bertemu dengan-Nya, berbaik sangka dan ridha dengan semua takdir yang ditetapkan-Nya. Hati juga akan penuh dengan iman jika diisi dengan perasaan syukur dan taubat kepada-Nya. Amalan-amalan hati seperti itu akan menghadirkan rasa khusyuk, zuhud, wara’, dan mawas diri. Inilah halawatul iman (manisnya iman).
Hati akan hidup jika ada rasa mencintai Allah, takut kepada-Nya, berharap bertemu dengan-Nya, berbaik sangka dan ridha dengan semua takdir yang ditetapkan-Nya. Hati juga akan penuh dengan iman jika diisi dengan perasaan syukur dan taubat kepada-Nya. Amalan-amalan hati seperti itu akan menghadirkan rasa khusyuk, zuhud, wara’, dan mawas diri. Inilah halawatul iman (manisnya iman).
19. Sering menghisab diri
Allah berfirman, “Hai orang-ornag yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (Al-Hasyr: 18)
Allah berfirman, “Hai orang-ornag yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (Al-Hasyr: 18)
Umar bin Khattab r.a. berwasiat, “Hisablah dirimu sekalian sebelum kamu dihisab.” Selagi waktu kita masih longgar, hitung-hitunglah bekal kita untuk hari akhirat. Apakah sudah cukup untuk mendapat ampunan dan surga dari Allah swt.? Sungguh ini sarana yang efektif untuk memperbaharui iman yang ada di dalam diri kita.
20. Berdoa kepada Allah agar
diberi ketetapan iman
Perbanyaklah doa. Sebab, doa adalah kekuatan yang luar biasa yang dimiliki seorang hamba. Rasulullah saw. berwasiat, “Iman itu dijadikan di dalam diri salah seorang di antara kamu bagaikan pakaian yang dijadikan, maka memohonlah kepada Allah agar Dia memperbaharui iman di dalam hatimu.” Ya Allah, perbaharuilah iman yang ada di dalam dada kami. Tetapkanlah hati kami dalam taat kepadamu. Tidak ada daya dan upaya kami kecuali dengan pertolonganMu.
Perbanyaklah doa. Sebab, doa adalah kekuatan yang luar biasa yang dimiliki seorang hamba. Rasulullah saw. berwasiat, “Iman itu dijadikan di dalam diri salah seorang di antara kamu bagaikan pakaian yang dijadikan, maka memohonlah kepada Allah agar Dia memperbaharui iman di dalam hatimu.” Ya Allah, perbaharuilah iman yang ada di dalam dada kami. Tetapkanlah hati kami dalam taat kepadamu. Tidak ada daya dan upaya kami kecuali dengan pertolonganMu.
sumber: dakwatuna.com

Semoga Sobat hari ini lebih baik dari kemarin, jika ada yang ingin ditanyakan terkait program RZ Cilegon, silahkan isikan komentar dibawah ini
EmoticonEmoticon