![]() |
| Aktifitas di Majlis Taklim Al-Hikmah |
Hikmat, Alumni Anak Juara
RZ Cilegon dan pernah sekolah di SMK BIT Al-Insan ia melanjutkan pendidikan ke
Pesantren Tahfidz Manba’ul Furqon di Bogor karena keterbatasan biaya akhirnya
Hikmat memutuskan untuk pindah ke Pesantren Nurul Furqon di Tangerang karna
tanpa dipungut biaya. Hikmat selama 1 tahun belajar sudah hafal 15 juz
Al-Qur’an. Hikmat pun sering diajak oleh ustadz H. Miftahudin Al-Hafidz yang
merupakan pengasuh Nurul Furqon untuk ngisi tilawah Al-Qur’an dalam acara-acara
kemasyarakatan. Kebaraniannya tampil didepan umum didasari dari seringnya tampil dipublik saat masih di MTs
dan SMK yang saat itu dipercaya sebagai ketua OSIS ditambah sering mengikuti
pembinaan yang diadakan oleh RZ Cilegon 2 kali dalam sebulan.
Dalam perjalanannya Hikmat
mendapat kesempatan untuk belajar Al-Qur’an metode Tilawati utusan pesantren
tepatnya pada tanggal 25 Januari 2014 di Surabaya.
Berbekal dari ilmu itu kemudian
Hikmat memutuskan untuk pulang sekitar pertengahan tahun 2014 untuk mengabdikan
diri kepada masyarakat. Menurutnya guru ngaji di kampungnya sangat sedikit dan
dikampungnya tidak ada Madrasah Ibtidaiyah itulah sebabnya Hikmat merasa
terpanggil. “Berdakwah tidak harus jadi kyai dulu” katanya. Sesuai dengan moto
hidupnya yaitu “Pergi Mencari Pulang
Memberi”.
Awal Pendirian Majlis Taklim
Sepulang dari pesantren Hikmat
langsung mengaplikasikan ilmu yang ia perolah dari pesantren kepada
keponakannya yang berjumlah 3 orang. Bermula dari 3 keponakannya itulah ibarat besi tertarik oleh Magnet, banyak
orang tua yang mempercayakan anaknya untuk belajar mengaji ke Hikmat.
Awalnya sih, hanya ngajari 3
orang keponakan mungkin mereka cerita ke teman-temannya sampai akhirnya banyak
yang bergabung untuk mengaji disini. Aku Hikmat
Anak-anak pada kesenangan belajar
disini karena metode tilawati sangat
mudah dipahami dan ada lagunya
yang membuat mereka tidak jenuh. Lanjutnya.
Saat tulisan ini dibuat tercatat
santri yang mendaftar sudah mencapai 40 anak kebanyakan dari mereka masih jenjang SD dan ada juga yang SMA.
Semakin banyaknya santri yang
ikut belajar Al-Qur’an pada Hikmat di rumahnya yang sempit, menjadi awal mula
timbulnya keinginan untuk membangun sebuah Majlis Taklim di teras rumahnya.
Hikmat pun segera merembukkan dengan keluarga dan tokoh Masyarakat setempat.
Niat baik Hikmat disambut baik oleh keluarga dan tokoh Masyarakat.
Tanpa adanya dana yang memadai
boleh dikatakan hanya bermodal niat dan keinginan yang kuat saja. Bismillah,
hikmat pun mulai membangun Majlis Taklim dengan modal awal dari Ibunya yang
sehari-hari berjualan makanan ringan di Sekolah dekat rumahnya itu, ibunya rela
menjual kalung emas yang dimilikinya satu-satunya demi terwujudnya cita-cita
anaknya sedangkan kakaknya menyumbangkan sedikit uang dari hasil kerjanya yang
serabutan. Alhamdulillah, bangunan Majlis Taklim sudah berdiri walaupun masih
banyak kekurangan, kalau musim hujan masih kehujanan air pada masuk ke Majlis,
kalau lagi cuaca cerah disiang hari tidak sampai 25 menit para santri sudah
pada banjir keringat karena belum
adanya alas dan kipas angin di Majlis
tersebut.
Supaya pendirian Majlis Taklim
diakui oleh Pemerintah daerah setempat, Hikmat berikhtiar mengurus surat-surat
dan perlengkapan yang dibutuhkan. Alhamdulillah pada tanggal 20 Februari 2015
SK Izin Operasional telah dikeluarkan oleh kementrian agama kota Cilegon dan
nama yang didaftartarkan adalah “Majlis Taklim Nurul Hikmah”.
Hikmat menjelaskan pengertian
singkat kenapa dinamakan Nurul Hikmah?
Nurul adalah cahaya sedangankan
hikmah adalah kebijaksanaan atau manfaat dan sengaja namanya Hikmah supaya
mirip-mirip nama pendirinya yaitu Ahmad Hikmatulloh, kelakarnya.
Banyak orang yang bilang mendirikan itu gampang yang sulit
itu cara mempertahankannya, merekrut itu gambang tapi mempertahankan itu yang
sulit. Perkataan itu bukanlah kalimat untuk menakut-nakuti karena memang
kenyataannya sudah banyak buktinya. Namun sebagai umat Islam yang
yakin akan pertolongan Allah, seharusnya tetap istiqomah dijalan-Nya tentunya
harus dibarengi dengan usaha karena modal yakin saja tanpa dibarengi dengan
usaha ibarat bermimpi disiang bolong atau halilintar dimusim kemarau.
Hikmat dalam kondisi tidak adanya
pemasukan dibidang materi karena belum ada pekerjaan sampingan selain mengajar
ngaji, ia tetap sabar berbagi ilmu kepada santri-santrinya.
Akan tetapi keberlangsungan suatu
organisasi selain membutuhkan kesabaran dan
kesolidan dari para pengurusnya juga perlu adanya pemasukan dana untuk
operasional agar organisasi itu tetap berjalan. Akhirnya diterapkanlah infak
Rp. 10.000 perbulan kepada santri-santrinya.
Hikmat berharap agar ada Donatur yang bersedia menyumbangkan
sebagian hartanya kepada Majlis Taklim.

Semoga Sobat hari ini lebih baik dari kemarin, jika ada yang ingin ditanyakan terkait program RZ Cilegon, silahkan isikan komentar dibawah ini
EmoticonEmoticon