![]() |
| www.rumahzakat.org |
Kehidupan suami istri dalam
sebuah keluarga bukanlah kehidupan surga yang hanya berisi kenikmatan dan suka
cita. Seromantis apapun suami istri, sesakinah apapun keluarga, suatu saat
pasti ada masalahnya. Kadang suami istri berselisih dalam satu hal, atau
‘bertengkar’.
Perselisihan atau ‘pertengkaran’
yang sesekali terjadi pada suami istri bukanlah hal yang fatal. Sepanjang bisa
mengendalikan diri dan mengontrol kata-kata. Nah, agar perselisihan atau
‘pertengkaran’ tidak berkepanjangan, tidak membawa luka mendalam serta tidak
merusak hubungan cinta dan kasih sayang, suami istri perlu menghindari tiga
ucapan ini:
ANCAMAN
Suami istri harus menghindari kata-kata yang bernada ancaman. Sebab ancaman hanya makin menyulut kemarahan pasangan hidup kita dan masalah berkepanjangan. Kalaupun ancaman meredakan masalah secara temporer, ia membekaskan kekhawatiran di jiwa pasangan hidup kita.
Suami istri harus menghindari kata-kata yang bernada ancaman. Sebab ancaman hanya makin menyulut kemarahan pasangan hidup kita dan masalah berkepanjangan. Kalaupun ancaman meredakan masalah secara temporer, ia membekaskan kekhawatiran di jiwa pasangan hidup kita.
Kata-kata seperti “Awas, kalau
kamu tidak berubah, aku akan pergi dari rumah ini” atau “Jika kamu mengulangi
hal itu lagi, aku akan mengusirmu dari rumah ini” harus dihindari. Betapa
banyaknya keluarga yang berantakan setelah suami mengeluarkan ancaman semacam
ini, kemudian istrinya menjawabnya dengan ancaman pula. “Oke, kalau begitu aku
akan pulang ke rumah orangtuaku.”Yang lebih berbahaya, jika suami
mengancam dengan menggunakan kata “cerai.” Seperti kalimat: “Kalau begini
caranya, aku akan menceraikanmu.”
Rasulullah mengingatkan tentang
kata-kata cerai ini.
“Tiga perkara yang serius dan bercandanya sama-sama dianggap serius, yakni nikah, talak dan rujuk” (HR. Abu Daud)
“Tiga perkara yang serius dan bercandanya sama-sama dianggap serius, yakni nikah, talak dan rujuk” (HR. Abu Daud)
Imam Nawawi menjelaskan, “Orang
yang mentalak dalam keadaan ridha, marah, serius maupun bercanda, talaknya
tetap jatuh”
Ungkapan Kebencian
Meskipun sedang marah atau ‘bertengkar’ dengan pasangan, hindari kata-kata “Aku benci kamu.” Sebab, disadari atau tidak, kata-kata ungkapan kebencian ini bisa sangat membekas di hati pasangan hidup, khususnya ketika diucapkan oleh seorang suami kepada istrinya. Sang istri akan merasa bahwa suaminya sudah tak lagi mencintainya. Dan ini berbahaya bagi kehidupan pernikahannya.
Bahkan, bekas sayatan hati karena
ungkapan benci ini akan terus terbawa dalam benak istri meskipun kemarahan
sudah mereda, pertengkaran sudah selesai, dan permalasahan sudah teratasi.
Salah satu tandanya, ketika ada hal yang tak diinginkan dari suami, istri
teringat kembali akan kata-kata itu. Para suami perlu menyadari bahwa wanita
adalah makhluk perasa. Sensitif perasaannya.
"Selalu" dan "Tidak Pernah"
Kata-kata ini juga perlu dihindari. “Selalu” dan “tidak pernah.” Misalnya ketika suami istri bertengkar gara-gara anaknya yang masih SD terlambat sekolah. “Ini gara-gara kamu, kamu selalu terlambat menyiapkan sarapan,” kata suami. Padahal, dalam satu pekan atau satu bulan, baru kali itu sang istri terlambat menyiapkan sarapan. Itu pun karena dirinya tidak enak badan.
Sedangkan penggunaan kata “tidak
pernah” umumnya lebih sering dipakai wanita. Ketika marah kepada suaminya, ia
mengatakan “Engkau tidak pernah membahagiakanku”, “Kau tidak pernah memberiku
nafkah yang layak” dan seterusnya.
Kata-kata “tidak pernah” ini
merupakan bentuk pengingkaran atas kebaikan pasangan hidup kita. Dan karena ini
banyak digunakan wanita, inilah yang menyebabkan kebanyakan penghuni neraka
adalah wanita. Sebagaimana sabda Rasulullah: “Dan aku melihat neraka. Aku
belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari itu. Aku lihat
ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya, “Mengapa
para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab,
“Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para
wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka
kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat
baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia
melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan
berkata, ‘Aku sama sekali tidak pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari
dan Muslim)
Sumber : http://keluargacinta.com/
